Waiting for You/Neoreul Gidaryeo

Title                 : Waiting for You (Neoreul Gidaryeo)

Type                : SongFic

Author             : Valuable94

Genre              : Romance

Rating              : Teen

Lenght             : Oneshot

Cast                 : Yesung (Super Junior), Lee Dong Bin (OC)

Disclaimer     : author abal-abal balik lagi nih bawa songfic pertama ane, kali ini author bawa bapaknya si dangkkoma. Mian kalo hasilnya gaje lagi. Buat yang udah request ni ff semoga suka. Author gak tau ni ff  nyambung apa kagak sama judulnya, kalo gak nyambung sambungin aja ya. Kekeke

FF ini murni mengalir dari otak saya dan turun melalui jari-jari gatel author *apaan*. Hargai karya orang lain, don’t copas.

oKAI deh, happy reading all ^^

Words I couldn’t tell you

 When I close my eyes

They’ll emerge again

Stop reminiscing my memories

My love, I think of you

I regret the days when I wandered with you staying by my side

Can’t you listen to my sincere heart?

4thApril 2010 7 P.M

Yesung POV

 

Langkahku semakin cepat, cepat, dan cepat. Tak kuhiraukan lagi udara minggu terakhir musim semi yang entah kenapa terasa lebih dingin, berharap tak kehilangan kesempatan untuk hari ini, untuk melihatnya, memandangnya, memperhatikan wajahnya.

Aku berlari dari pelataran kampus menuju tempat faforitku setahun ini. Pemandangan dibalkon ini terasa lebih indah dengan kehadirannya, dia….yeoja yang telah merebut seluruh perhatianku, mengubahku menjadi namja gila yang begitu memujanya, yeoja yang sudah menjadi canduku.

Ya….agasshi! Tak bisakah kau melihatku disini? Jangan hanya melihat buku-buku tebalmu itu, hahaha….kurasa kau akan lebih terpesona dengan ketampananku daripada buku-bukumu itu. Rambut hitamnya yang terombang-ambing oleh angin musim gugur, perlahan menerpa wajah putihnya, tangan lembutnya menyelipkan rambut hitamnya dibalik telinga membuat wajah cantiknya terlihat lebih jelas dari sini. Yeppeun yeoja ^^

Jarum jam kini tengah menunjuk angka 10 kurasa waktuku sudah habis untuk hari ini saja tentunya. Yeoja itu menyedot sodanya, melipat buku, mengalungkan tas selempangnya kemudian beranjak meninggalkan tempatnya, meninggalkanku, lagi. Kuhembuskan napas berat, menatap siluet punggung cantiknya yang perlahan menjauh dan menghilang. Dadaku sesak, sesingkat itukah waktuku bersamanya. Apa aku jatuh cinta?

I wait for you until the end of the world

 I wait for you until the moment fate forbids

Now I can give you my everything

Can you come to me?

My dear love

Sudah jam 9. Aish….aku terlambat, waktuku sudah terbuang 2 jam gara-gara dosen killer ini, sebentar lagi pasti dia akan pergi, aigoo…aku begitu merindukannya. Kupercepat langkahku dari kelas menuju balkon untuk melihat yeoja-ku(?). Aku terjongkok mengatur napasku yang masih terengah setelah berlari karena jarak kelasku dan balkon yang cukup jauh. tapi apa yang kulihat, nae yeoja eodiya?

Kuedarkan pandangan menyapu seluruh ruang yang masih bisa kujangkau dengan mata sipitku namun tetap saja tak kutemukan yeojaku. Aku berlari menuruni tangga mencoba mencarinya ditaman tempat faforitnya namun ia benar-benar tidak ada. Andwae…kau tidak boleh meninggalkanku agasshi. Aku berlari menyusuri koridor dengan pandangan yang tak fokus.

Bruukk, aku menabrak seseorang. Seorang yeoja, buku tebal itu? Tas selempang itu? Rambut hitam itu? Jinjja. Yeoja ini bergerak cepat mengambil semua barangnya yang jatuh tanpa berkata apapun, kemudian berdiri tepat dihadapanku. Sinar mata indahnya seakan menghipnotisku untuk tetap melihatnya hingga membuat kebekuan ditubuhku enggan menghilang.

“j..jeosonghamnida agasshi”. Kata-kataku tergagap karena aku belum lepas sepenuhnya dari keterkejutanku. lambaian tangannya menyadarkanku dari lamunanku tentangnya. Ia hanya tersenyum seolah berkata ‘gwaenchana’ kemudian membungkuk dan berlalu begitu saja.

“chogiyo” ia menoleh karena mendengar teriakanku kemudian berbalik menghadapku kembali.

“yesung imnida, neo ireumeun?” alisnya terangkat sesaat kemudian mengambil sesuatu dari tas selempangnya, mengeluarkan sebuah note dan menuliskan beberapa kalimat dan menyobeknya kemudian memberikannya padaku ‘Lee Dong Bin imnida, bangapseumnida Yesung-sshi’. Kenapa tidak langsung bicara saja, kenapa harus repot-repot menulisnya.

“ne, nama yang bagus, bangapseumnida” dia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya dan membungkuk lagi kemudian berlari meninggalkanku dengan sedikit berlari.

“ya! Agasshi eodiya?” ia hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh dan tetap meneruskan larinya semakin jauh, dan menghilang, lagi dan lagi.

Kutatap lekat sepucuk kertas dengan tulisan tangannya kemudian memasukkannya kedalam tas-ku, dengan senyum yang mengembang aku langkahkan kakiku menyusuri koridor, kurasa hari ini lebih indah dari yang kubayangkan. Ini adalah pertama kalinya aku bertatap muka dengan dia setelah setahun aku hanya mampu memandangnya dari balkon. ‘Lee Dong Bin, kurasa aku benar-benar menyukaimu’ gumamku.

Erasing memories we had together

 As if nothing happened

I say I do not know you

But my heart recognize you at first  

All the time spent with you is waiting for you

My last love, it is only you

6th April 2010 7 P.M

 

Sebucket bunga mawar putih bertengger indah dibelakang punggungku menemani langkahku menuju tempat yang selama ini hanya bisa kupandangi saja, perlahan aku mendekati sebuah bangku bercat coklat yang tengah dihuni seorang yeoja yang tetap setia dengan buku-bukunya. Kududukkan tubuhku tepat disebelahnya, ia menutup bukunya kemudian menatapku heran? Kurasa. Meminta ijin darinya hanya dengan sebuah tatapan mata dan dibalas dengan sebuah anggukan kepala. Kumantapkan hatiku untuk memberikan bunga yang sudah terlalu lama bersembunyi dibalik punggungku itu.

“ige, bunga yang cantik untuk yeoja yang juga tak kalah cantik” ia menggelengkan kepala namun tetap menerima bunga dariku, kuharap dia menyukainya.

‘gomawo Yesung-sshi, ternyata kau namja yang pandai merayu J’ sebuah note kecil dengan hiasan tulisan tangan yang indah membentuk sebuah kalimat yang membuat sudut bibirku tertarik.

“joha?” hanya sebuah anggukan ringan yang mampu menjawab pertanyaanku.

“em…bisakah kau memanggilku Yesung saja, kurasa itu terdengar lebih akrab lagipula kita juga sudah cukup lama kenal”

‘ne, Yesung-ah’ note kecil lagi? Aku hanya menggelengkan kepala, dasar yeoja aneh. sebenarnya kenapa yeoja ini? apa dia tidak mau bicara denganku? Aku ingin sekali menanyakannya, tapi aku takut membuatnya tersinggung apalagi ini adalah kali pertamanya aku bisa bersamanya dengan jarak sedekat ini.

“em..kalau begitu, apa aku boleh memanggilmu begitu juga?” lagi-lagi hanya anggukan yang kudapat, aarrgghhh….Dong Bin-ah! Kau membuatku semakin penasaran.

“apa kau sekolah juga disini?”

‘anio, aku kesini hanya ingin membaca saja’

“kau tinggal dimana?”

“apa kau sendirian kemari?”

“kau tidak takut berjalan sendirian?”

“kenapa tidak minta diantar saja?” dan setumpuk pertanyaanku mengenai dirinya hanya dibalas dengan sebuah note kecil yang semakin menumpuk juga ditanganku. Hingga akhirnya percakapan ganjil kami berakhir dengan sebuah deretan angka yang bertengger manis diatas note-nya kemudian ia bergegas meninggalkanku lagi seperti sebelumnya.

Kusimpan rapi semua note-nya dalam sebuah toples transparan diatas nakas dekat ranjangku. Kubaringkan tubuhku diranjang sambil memandangi ragu deretan angka ini, apakah aku harus menghubunginya? TENTU SAJA. Kuketik nomor ini kemudian kutekan tombol hijau pada layar ponselku.

Ttuuutt..ttuutt…..panggilanku hanya berakhir dengan nada tulalit. Kuulangi lagi sampai beberapa kali namun nada yang sama di akhir panggilan yang kuterima. Merasa dipermainkan, kukirim sebuah pesan padanya. Beberapa menit kemudian tanda pesan masuk diterima dari nomor yeoja aneh ini.

From: 010XXXXXXX

aku sedang tidak bisa menerima telpon, tapi jika kau mengirimiku pesan aku akan membalasnya

Akhirnya percakapan kamipun berlanjut.

4 bulan kemudian

21stAugust 2010

 

Hari ini adalah pertengahan bulan musim panas, 4 bulan adalah waktu yang sangat cukup untuk mengakrabkan hubungan kami, dan selama itu pula hanya note kecil dan pesan singkatnya saja yang menemani setiap pertemuan dan obrolan kami.

Meskipun ia tak pernah berbicara padaku sekalipun, tapi aku semakin mencintainya, aneh bukan? Tapi itulah yang membuatku semakin menggilai yeoja aneh ini. Aneh? Memang benar. Aku tahu itu aneh, dan itu memang benar-benar aneh. hahaha

Aku sudah membuat janji dengannya untuk bertemu di taman kampusku jam 7 malam ini. Dan sekarang masih jam setengah 7 tapi aku sudah sampai dikampus, sengaja memang karena aku akan memberikannya sedikit kejutan. Kuletakkan sebuah kertas berbentuk hati bertuliskan ‘kalau kau ingin bertemu denganku, ambilah semua bunga yang ada ditanah! Maka kau akan menemukanku’ aku menaruh satu per satu bunga mawar ini hingga sampai disebuah ruangan yang luas dan tentu saja sudah aku hias dengan dekorasi yang kurasa akan membuat siapapun yeoja yang melihatnya akan tersipu malu.

Sudah jam 7, mungkin dia baru saja sampai. Aku menunggunya didalam ruangan yang sudah kumatikan lampunya.

5 menit

10 menit

15 menit

20 menit

25 menit

30 menit *aduh author capek ngitung*

Kenapa dia lama sekali? Aku bahkan hampir berkarat menunggunya disini. Apa dia melupakan janjinya padaku? Ani, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan sekarang sudah hampir jam 8, huuuffttt….aku sudah mulai bosan menunggunya, kurasa dia memang tak akan datang.

Dengan berat hati akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja, namun belum sempat aku beranjak dari dudukku kudengar derap langkah yang menggema didepan ruangan ini. Kuharap itu benar-benar dia.

Perlahan terdengar decitan pintu terbuka dan menampakkan bayangan yeoja yang terlihat ragu-ragu untuk melangkah masuk kemudian aku berdiri dan menyalakan lampu. Seketika ruangan ini terasa begitu terang ditambah dengan dekorasi yang sudah kubuat dengan susah payah membuat kesan ruangan ini begitu romantis.

Mulutnya menganga seakan tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. Matanya terus menelusuri setiap detail ruangan ini hingga akhirnya ia menemukanku yang berdiri menyandar dinding. Hahaha…wajahnya terlihat sangat lucu. Aku berjalan mendekatinya yang masih terdiam heran, kaget atau apapun itu alasannya aku tak peduli.

“kau terkejut?” dia tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menatapku lekat tanpa ekspresi.

“baiklah langsung saja, Dong Bin-ah! Kurasa kita sudah menegnal cukup lama dan akau tahu aku bukanlah namja yang romantis, aku juga bukan namja yang pintar memberikan kata-kata manis kepada seorang yeoja keundae aku berjanji akan menjadi namja yang bisa membahagiakanmu, namja yang akan selalu berada disampingmu disaat kau membutuhkanku ataupun tidak, aku menerimamu bagaimanapun keadaanmu. Dong Bin-ah, Saranghamnida! Kau maukan menerimaku menjadi namjachingu-mu?”

Dia menunduk, aku tak tahu apa yang sedang ada dipikiran yeoja ini sekarang. Peluh sudah mengalir dari dahiku, kurasa suhu ditubuhku sudah menurun karena gugup sekarang, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, aku benar-benar gugup tapi aku siap apapun jawaban yang akan aku terima.

Tiba-tiba dia mendekatiku dan kurasakan tangan lembutnya mengusap peluh diwajahku dengan tersenyum, bisa kulihat setiap lekuk wajahnya yang begitu sempurna alami tanpa sentuhan pisau bedah itu. Jarak wajah kami hanya 5 senti hingga bisa kurasakan hembusan napas hangatnya menerpa wajahku. Kurasakan hangat ditubuhku. Dia memelukku begitu erat dan menyenderkan kepalanya didada bidangku.

“kau menerimaku?” kuberanikan diriku untuk mengatakannya.

dia hanya mengangguk dan memang jawaban inilah yang sudah kutunggu. Kupererat pelukan kami hingga ia terbatuk-batuk karena tidak  bisa bernapas.

Kulepaskan pelukanku kemudian kutangkup dan kupandangi wajahnya lekat. Kuraih tangannya kemudian memasukkan cincin yang sudah kupersiapkan kejari manis kirinya.

“kau milikku sekarang” kukecup bibir mungilnya sekilas, bisa kurasakan tubuhnya menegang kemudian kupeluk lagi tubuhnya.

“gomawo chagi-ya” dia hanya mempererat pelukannya dan kuanggap itu sebagai jawabannya.

 

This love that can’t be

 Forgotten alone and changed the monologue

was left by your empty side

24th August 2011

 

Dingin, kueratkan selimut yang sejak semalam melilit ditubuhku karena hawa dingin membuatku semakin malas untuk bangun.

drrtt…drrtt..kurasakan ponselku bergetar, kuraba nakas dekat ranjang dan mengambil ponselku.

From: Nae Yeoja

TOK….TOK…TOK..

Saengil chukaeyo oppa! saranghae J

To: Nae Yeoja

Chu~

From: Nae Yeoja

Shireo…oppa bahkan belum mandi sudah berani meminta poppo

To: Nae Yeoja

Bagaimana kau tahu kalau aku belum mandi?

From: Nae Yeoja

Apa tebakanku benar? Kau baru saja mengatakannya😛

Tsk….aku selalu kalah kalau harus berdebat dengannya. Kuletakkan ponselku kembali diatas nakas saat tak sengaja aku menyenggol toples yang ada disampingnya pecah hingga membuat isinya berhamburan.

Kupunguti setiap note yang jatuh disamping ranjang hingga note yang terakhir kemudian kubaca tulisan yang ada didalam note tersebut dan kurasakan keraguan itu kembali.

Flashback on

 

“ayolah chagi-ya, satu kata saja ‘sarangahae’ itu saja” rengekku

‘apa itu penting?’

“emm….aku hanya ingin mendengar kau mengatakannya saja chagi-ya, kau bahkan tak pernah mengatakan itu sekalipun padaku” aku sedikit memasang wajah kecewa agar ia mau menuruti keinginanku

‘aku kan sudah sering mengirimnya lewat pesan dan note-ku, apa itu masih kurang? Kalau kurang bilang saja, aku akan lebih sering menulisnya untuk oppa’

“aiisshh..tapi itu berbeda saat kau mengatakannya secara langsung padaku”

‘mothae….jangan paksa aku oppa. Dan jangan memperpanjang masalah ini’

“aisshh…geurae…mianhae” aku mengalah lagi.

Flashback off

 

Sekelebat percakapan 2 bulan lalu yang hampir membuat kami bertengkar kembali teringat. Jujur, mungkin sebagai seorang namja keinginanku ini sedikit kekanakan. Aku hanya ingin mendengarnya mengucapkan ‘saranghae’ saja, tidak lebih, tidak kurang tapi dia selalu menolaknya dengan alasan itu tidak penting. Aku juga berpikir begitu awalnya namun lama-kelamaan aku merasa kalau pengakuan cintanya itu juga sesuatu yang penting untukku.

Terkadang aku merasa tidak seperti kekasihnya, hampir setahun lebih kami pacaran tapi dia tidak pernah mengatakan sepatah katapun padaku. Apa aku bosan? Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Disisi lain aku tidak ingin mempermasalahkan hal itu karena pada kenyataannya dia memang mencintaiku dan aku tidak pernah meragukan perasaannya. Namun disisi lain aku juga butuh pengakuannya, hanya pengakuan, apakah permintaanku terlalu berat untuknya? Aku sudah muak.

Author POV

 

Hari ini Yesung mengajak Dong Bin makan malam dicafe langganan mereka sekaligus merayakan ulang tahunnya. Mereka duduk ditempat yang biasa mereka pesan. Mereka memesan makanan faforit mereka, beberapa menit kemudian pesanan mereka datang tapi sebelum sempat memakannya Dong Bin menyodorkan sebungkus kado dan dengan segera yesung membuka kadonya.

“perekam suara?” apa maksudnya memberiku perekam suara, batin Yesung. Kemudian Yesung menemukan sebuah note lagi. ditekannya tombol untuk mendengarkan isi perekam suara itu berharap bahwa itu adalah suara yeojachingunya tapi setelah beberapa menit ditunggu tetap tak ada suara yang keluar, bahkan perekam ini sudah ia kocok-kocok geram namun tetap tak ada suaranya.

Pandangannnya beralih pada Dong Bin namun ia hanya tersenyum geli kemudian ia memberikan note (lagi). Heemmm….bahkan Yesung sudah bosan untuk sekedar melihat note-nya, namun ia tidak ingin membuatnya kecewa.

‘kekeke…itu masih kosong oppa. Suatu saat nanti aku yang akan mengisinya dengan kata-kata SARANGHAE seperti keinginanmu selama ini. Kau hanya perlu bersabar sedikit lagi, yaksokaeyo J’

“CUKUP, HENTIKAN KEKONYOLAN INI. AKU MUAK. BERSABAR….SAMPAI KAPAN DONG BIN-AH? AKU SUDAH BOSAN DENGAN SIKAPMU SELAMA INI. BERAPA LAMA LAGI AKU HARUS MENUNGGUMU MAU BICARA PADAKU, KAU BAHKAN MIRIP ORANG YANG TIDAK BISA BICARA. ATAU KAU MEMANG BENAR-BENAR TAK BISA BICARA, EO?” *capslock jebol*

Yesung berdiri dari duduknya dengan amarah yang sudah memuncak hingga membuat kursinya tumbang kemudian melempar perekam suara tersebut dihadapan Dong Bin dan itu membuat Dong Bin semakin ketakutan. Ia tidak pernah melihat Yesung semurka ini, airmatanya menganak sungai dipipi mulusnya, tubuhnya bergetar hebat dengan sekuat tenaga ia menahan isakannya dengan menggigit bibir bawahnya dan menggenggam erat ujung dressnya. Ia hanya tertunduk takut melihat yesung seperti kesetanan namun ia juga tidak bisa berbuat apapun.

“kita akhiri saja semuanya” ucap Yesung lebih tenang sembari membenarkan jasnya yang sedikit berantakan kemudian meninggalkan Dong Bin yang masih terisak dalam diam.

Sebegitu pentingkah kata-kata itu untukmu? Bukankah kau menerimaku bagaimanapun keadaanku? Apa kau sudah melupakannya? Atau mungkin aku yang terlalu bodoh mempercayai kata-katamu begitu saja. Batin Dong Bin dalam tangisnya, kemudian ia memungut perekam suara itu dan pergi dengan hati yang terpecah belah karena kata-kata namjachingunya. Ani, mantan namjachingunya.

As I didn’t take your hand

 When you’re by my side

I’ll never  let you go again

One year later

24th August 2012

 

Yesung POV

 

Aku baru saja pulang dari acara wisuda dikampus, akhirnya kini aku sudah resmi menjadi seorang sarjana musik dan aku juga sudah diterima bekerja sebagai komposer disalah satu perusahaan rekaman yang cukup terkenal dikorea.

Kulangkahkan kakiku gontai karena lelah ditubuhku setelah acara wisuda yang menyita waktuku seharian ini.

brukk…aku hampir saja terjatuh karena menyandung sesuatu. Aisshh…siapa yang menaruh bungkusan ini didepan pintu.

Degg….kenapa bungkusan ini ada disini? Kuambil bungkusan yang tersebut kemudian membukanya cepat karena penasaran dengan apa isinya. Setelah kulihat apa isinya, ingatanku seakan memutar kejadian setahun lalu yang menjadi akhir dari ceritaku dengan yeojaku.

Reflek aku memutar-mutar benda ini berharap ada note yang menempel dan benar, kulepas note ini kemudian membacanya ‘saengil chukaeyo Yesung-ssi, aku sudah memenuhi keinginanmu untuk mengatakannya, semoga kau menyukainya’. Dengan tangan yang sedikit bergetar dan hati berdebar kutekan tombol play untuk mendengarkan isi perekam suara ini.

Srreettt..ssreett…agak lama aku menunggu dengan detakan jantung yang semakin tak beraturan hingga akhirnya aku mendengar suara seorang yeoja yang tidak jelas.

“s..ss..ssss…”

“s..sa..sar….”

“rra…rrang..”

“h..hh..hhae..” deg, benarkah ini suara Dong Bin. Tanpa kusadari airmataku tiba-tiba jatuh, tubuhku bergetar, rasanya jantungku ingin mencelos keluar dari tubuhku setelah mendengar suaranya. Rasanya kerinduan yang coba kukubur kini keluar dengan sendirinya melalui celah-celah kecil hatiku yang selama ini kuabaikan. Sebenarnya apa yang terjadi padamu Dong Bin-ah.

Tanpa merasakan lelah yang ada ditubuhku, aku langsung pergi mencari Dong Bin. apa aku sudah gila? Aku bahkan tidak tahu dimana Dong Bin sekarang setelah pertengkaran kami satu tahun lalu.

Aku hanya mengikuti kata hatiku membawaku pergi entah kemana hingga akhirnya aku berhenti disebuah bangunan sederhana namun terlihat klasik. ya, ini rumah Dong Bin. kuharap aku bisa bertemu dengannya.

Kuketuk pintukayu rumah yang sudah setahun ini tak pernah kusambangi. Sesaat kemudian tampak seorang yeoja paruh baya berada dibalik pitu ini.

“annyeonghaseyo ahjumma” kubungkukkan badanku sebagai tanda hormat kepada ibu dari yeoja yang begitu kucintai. Hanya senyum yang menjawab salamku kemudian beliau mempersilahkanku masuk dan duduk disofa ruang tamu.

“oraemanyeo Yesung-ah, apa yang membuatmu tiba-tiba datang kemari?”

“sebelumnya aku ingin minta maaf ahjumma karena aku sudah pernah membuat Dong Bin terluka, dan aku ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Dong Bin” penjelasanku tersebut sempat membuat senyum anggun beliau menghilang kemudian beliau kembali tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku.

“pasti kau sudah menerima rekaman itu kan?” aku mengangguk mengiyakan pertanyaan ahjumma.

“sudah kuduga kau pasti akan kesini, itu adalah suara pertama Dong Bin, dia berusaha keras untuk memberikannya sebagai kado ulang tahunmu. sebenarnya rekaman itu sudah dibuat setengah tahun yang lalu. Tapi Dong Bin meminta ahjumma untuk mengirimnya padamu pada saat hari ulang tahunmu”

“keundae, ahjumma kenapa…” pertanyaanku tergantung karena sudah disela oleh ahjumma.

“apa kau tahu kenapa Dong Bin tidak pernah bicara padamu selama ini?” aku terdiam menunggu kelanjutan kata-kata beliau.

“dulu uri Dong Bin mengalami kecelakaan saat darma wisata di SMA, bus yang dikendarai rombongannya oleng dan menabrak pembatas jalan hingga terbalik dan hampir masuk jurang. Beberapa teman Dong Bin meninggal sementara Dong Bin sendiri sempat koma 2 minggu dan dia mengalami robek pita suara. Setelah kejadian itu kami memutuskan untuk melakukan operasi pita suara Dong Bin dan melakukan terapi walaupun kemungkinan Dong Bin untuk sembuh sangat tipis” aku terpaku mendengar penjelasan ahjumma, jantungku memacu lebih cepat, aku salah…aku egois. waeyo Dong Bin-ah? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku.

“tahun pertama tidak begitu banyak perubahan, bahkan terkesan sama saja. Tapi ditahun kedua, setelah dia bertemu denganmu dia semakin rajin mengikuti terapi karena dia ingin  mengatakan bahwa ia mencintaimu seperti yang kau inginkan selama ini. Setahun yang lalu setelah kalian memutuskan untuk berpisah Dong Bin terlihat begitu terpukul namun dia semakin giat melakukan terapi karena ingin segera memenuhi janjinya padamu. Dia takut kalau kau mengetahuinya sebagai seorang gadis bisu, dia akan meninggalkanmu” airmataku luruh bersamaan dengan tubuhku yang jatuh tertunduk dilantai. ani Dong Bin-ah, kenapa kau bisa berpikir seperti itu.

“jigeum, Dong Bin-ah eodiseo?” aku tidak bisa membendung perasaanku kali ini. Dong Bin-ah, jeongmal mianhae.

“dia bilang tidak ada orang yang boleh tahu, dia ingin men..”

“jebal ahjumma, ijinkan aku menemuinya. Setidaknya biarkan aku melihatnya saja itu sudah cukup. Jebal…jebal ahjumma” mohonku ditengah isakanku hingga akhirnya ahjumma memberikanku alamat Dong Bin sekarang.

Dong Bin-ah….aku akan menebus semuanya.

I missed you

 I missed you, my heart grows burdened too much

Steps to you’re becoming slow

But I’ll love you

Like how I met you first time

I will give love to my stopped heart

Daegu, Seoul

6 P.M

 

Aku tiba disebuah daerah perbukitan dengan pemukiman yang tidak terlalu padat. Udara disini juga begitu sejuk karena masih banyak pohon-pohon disini, pantas saja Dong Bin memilih tempat ini.

Aku turun dari mobilku kemudian menuju kesebuah rumah sederhana bercat putih dengan pagar kayu yang tidak terlau tinggi dengan cat putih juga. Apa orang yang punya rumah ini begitu maniak dengan warna putih?

Aku masuk melewati pagar kayu yang tidak dikunci ini kemudian mengetuk pintu. Sesaat kemudian muncul seorang namja yang kurasa lebih tua satu tahun dariku.

“annyeonghaseyo, apa benar Dong Bin-ssi tinggal disini?” pria ini tidak menjawab pertanyaanku tapi memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“annyeonghaseyo, em…nuguseyo? kenapa kau mencari yeodongsaeng-ku?” oh, jadi namja ini kakak Dong Bin.

“aku teman Dong Bin-ssi, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya. Bisakah aku bertemu dengannya?”

“oh, tentu saja. Kau masuklah dulu, biar kupanggilkan Dong Bin….chakkaman” aku masuk kedalam tanpa ingin duduk, aku terlalu gugup akan bertemu dengan yeoja yang kucintai tapi aku membuatnya terluka karena keegoisanku.

Tap…tap…kudengar derap langkah menuruni tangga, aku membelakanginya sekarang. Aku terlalu takut untuk menatapnya secara langsung, aku terlalu merasa bersalah padanya.

Kurasakan langkahnya terhenti tepat dibelakangku, kuberanikan berbalik memandangnya hingga akhirnya dapat kulihat dengan jelas wajah cantiknya yang tak pernah berubah dimataku. Aku begitu bahagia melihatnya tapi kurasa tidak dengannya, wajahnya terlihat begitu datar tanpa ekspresi. Apakah kau membenciku Dong Bin-ah, batinku.

“Dong Bin-ah”

“untuk apa kau kesini?” deg, benarkah itu suaramu Dong Bin-ah? seindah inikah suaramu tapi kenapa terasa begitu dingin ditelingaku.

“mianhae, jeongmal mianhae” aku tertunduk, tak tahu kata apa lagi yang harus kukeluarkan.

“em, aku sudah memaafkanmu. Kha!”

“hajima Dong Bin-ah, aku tahu aku terlalu egois, aku tidak memikirkan bagaimana perasaanmu selama ini”

“semuanya bukan murni kesalahanmu Yesung-ssi, aku juga bersalah. Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kau boleh pergi sekarang” kata-katanya begitu tajam mengiris hatiku. Ia hendak meninggalkanku tapi dengan sigap kutahan pergelengan tangannya.

“jebal….dorawa…aku mencintaimu, jangan menyiksaku dengan perasaan ini Dong Bin-ah. Aku tahu kau juga masih mencintaiku” ia berbalik kemudian menatapku dengan mata yang berkaca dan pandangan yang terluka. Jebal Dong Bin-ah, kau membuatku semakin berdosa dengan tatapanmu.

“itu tidak akan pernah terjadi Yesung-ssi, sampai kapanpun kita tidak akan pernah seperti dulu lagi, dengan begitu aku tidak akan membuatmu kecewa lagi dan itu lebih baik untuk kita berdua”

“ani, aku tidak bisa hidup tanpamu. Jebal…kau jangan seperti ini Dong Bin-ah”

“kharago” ucapnya setengah terisak sambil mendorong tubuhku hingga keluar rumahnya. Aku lemas mendengar kata-katanya. Seolah tak ada daya lagi untuk memaksakan inginku kali ini, aku terlalu banyak menyakitinya.

“aku akan menunggu sampai kau menerimaku kembali”

“itu urusanmu” ia kembali masuk rumah tanpa melihatku. bahkan sekedar menolehpun tidak.

Author POV

 

Sudah hampir 2 jam setelah pertemuannya kembali dengan Yesung dan itu membuat Dong Bin terus menerus memikirkan namja itu lagi. Ia sudah menggelengkan kepalanya berkali-kali berharap bayangan Yesung hilang dari pikirannya namun nihil.

Ia teringat dengan kata-kata Yesung tadi, ada sedikit kekhawatiran menyelimuti hati Dong Bin. takut jika Yesung benar-benar menunggunya diluar. Ia memutuskan untuk mengintip keadaan diluar dan benar saja, Yesung masih setia berdiri diluar rumah.

Aaisshh…dasar namja bodoh, keluh Dong Bin. kemudian Dong Bin memutuskan untuk masuk kamar dan mengabaikan Yesung.

Sudah hampir tengah malam namun Dong Bin tak jua memperlihatkan tanda-tanda mengantuk, pikirannya terus tertuju pada Yesung, apa dia khawatir? Tentu saja. Dia hanya terlalu gengsi untuk mengatakannya.

Daarr….suara petir itu sukses membuat Dong Bin terlonjak, sesaat kemudian hujan deras mengguyur.

Reflek ia terlonjak kemudian berlari menuju gudang mengambil sebuah payung kemudian segera berlari menuju pintu namun belum sempat tangannya memegang gagang pintu ia kembali mengurungkan niatnya dan memilih untuk melihat Yesung yang sudah basah kuyup dari jendela.

Ia mengambil kursi kemudian melipat tangannya diatas kusen jendela sembari memandangi Yesung. Sebenarnya dalam hatinya ia masih mencintai Yesung bahkan cicin pemberiannya pun tak pernah ia lepas namun gengsinya jauh mengalahkan perasaannya. Hingga akhirnya tanpa terasa Dong Bin terlelap karena terus memandangi Yesung.

Tepukan dipundak Dong Bin sukses membuatnya terbangun dan melototi tersangka yang sudah membangunkannya dari mimpi indahnya.

“ya, kau itu yeoja macam apa? Tega sekali membiarkan namja itu berdiri semalaman ditengah hujan. Kurasa sekarang bajunya sudah mengering tanpa harus dijemur”

“mwo” pekik Dong Bin, ia hampir melupakan Yesung yang bisa saja mati kedinginan karena kehujanan semalam.

“aaisshh…menyebalkan” Dong Bin berlari menghampiri Yesung yang masih berdiri memeluk tubuhnya sendiri dengan kepala tertunduk dan bajunya memang benar-benar sudah mengering ditubuhnya. Perlahan ia mulai mengangkat wajahnya setelah merasa bahwa yeoja yang menghampirinya adalah Dong Bin.

Dengan wajah pucat Yesung tersenyum melihat wajah Dong Bin.

“bo…” bruukkk…kata-kata Dong Bin terhenti karena tubuh Yesung limbung tepat menimpa dirinya. Kemudian ia berteriak memanggil oppa-nya untuk membantu membopong Yesung masuk kedalam rumah.

Yesung POV

 

Kenapa terasa hangat sekali, bukankah aku kehujanan semalaman. Perlahan kubuka mataku dan kudapati aku sudah berada disebuah ruangan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“ya, kau sudah sadar” suara namja ini sepertinya tidak asing bagiku.

kucoba untuk duduk namun kepalaku terasa begitu berat.

“jangan memaksakan dirimu, kau berbaring saja. Dong Bin masih memasakkan bubur untukmu, nanti makanlah lalu minum obat. Aaiisshh…kau ini bodoh sekali, hujan-hujanan ditengah malam demi adikku” aku hanya tersenyum menanggapi kata-katanya.

Beberapa menit kemudian terdengar suara decitan pintu terbuka, dan menampakkan sosok yeoja yang membawa nampan berisi piring, obat dan air putih. Aigoo…bahkan dengan rambut yang berantakanpun dia tetap terlihat begitu cantik.

“ah, aku harus berangkat kerja sekarang. Dong Bin-ah, urusan namja bodoh ini dengan baik, dia seperti ini juga gara-gara kau”

“ya, oppa” sungut Dong Bin yang tidak dihiraukan oleh oppa-nya itu.

Dong Bin mendekat kemudian duduk dipinggir ranjang dan meletakkan nampannya dinakas dekat ranjang dengan perlahan dia membantuku duduk dan bersandar pada kepala ranjang.

“makan dan minum obatmu, setelah itu istirahat. Kurasa demammu akan segera turun” ucapnya sembari menyuapkan bubur yang terasa hambar dilidahku. Aku hanya pasrah memerima setiap suapan darinya sambil menikmati lekuk wajahnya. Hahaha…ada untungnya juga aku sakit, kurasa aku adalah orang sakit paling bahagia didunia.

“aku tahu aku cantik, tapi jangan menatapku seperti itu. Matamu bahkan hampir keluar” uhuk…aku tersedak setelah mendengar kata-katanya. Kenapa dia berubah narsis seperti ini.

Aaiisshhh, gumamnya. Dengan cepat dia mengambil tissue kemudian mengelap bibirku yang belepotan dengan bubur. Aigoo…bahkan jarak wajah kami hanya 2 senti saat ini, aku benar-benar sudah tidak tahan. Kugenggam tangannya, dia masih memakai cincinnya? Aku tersenyum, dia benar-benar masih mencintaiku. Ia menoleh dan membuat hidung kami berbenturan.

Kulihat wajahnya menegang, hahaha..apa dia gugup. Kumiringkan kepalaku mempermudah jangkauanku hingga bibirku sukses menempel dibibirnya. Awalnya hanya menempel saja, saat kurasa tak ada perlawanan darinya kulumat lembut bibirnya dan semakin memperdalam ciuman kami *aduh author gemeter nulisnya*

Dia membalasnya, tanganku kini sudah berpindah kepinggangnya mempererat dekapanku padanya dan tangannya pun sudah mengalung dileherku. Ditengah perjalanan(?) tiba-tiba terasa sesuatu menggelitik hidungku sampai…

Hacihhh….sontak ciuman kami terlepas dan terlihat muka Dong Bin yang merah entah menahan malu atau menahan marah aku tidak tahu.

Tiba-tiba, Hahaha….hahaha….tawa kami meledak. Entah siapa yang memulainya duluan tapi kurasa semuanya sudah baik-baik saja sekarang.

“aku tahu kau masih mencintaiku, akui saja” kugenggam tangannya sambil mengedikkan sebelah mataku.

“aiisshh….kau menyebalkan” ia memukul dadaku dengan wajah yang semerah kepiting rebus sekarang. kutarik tubuhnya kemudian mendekap tubuhnya erat tak ingin melepasnya lagi.

Aku tak akan melepasnya lagi

aku tak akan membiarkannya pergi lagi

kau akan jadi milikku selamanya Dong Bin-ah

“saranghae Dong Bin-ah, joengmal saranghae”

“ nado jeongmal SARANGHAE oppa”

The End_

#ngelap keringet

gimana songficnya? Ancur kah? Gaje kah? Hahaha…ini songfic eksperimen author. Jadi mian kalo gak karu2an. Gowawo buat readers yang mau baca ni ff gaje.

Author abal-abal pamit!!

annyeong! *bow bareng bapaknya dangkkoma

8 thoughts on “Waiting for You/Neoreul Gidaryeo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s