Stay [Part 5-END]

Title                 : Stay

Author             : Valuable94

Genre              : Romance

Rating              : PG-17

Lenght             : Part

Cast                 : Song Hyo In

Lee Donghae

Other cast find by yourself

Disclaimer       : hhuuaahh…udah ending nih. Terimakasih buat readers yang masih menunggu ff saya ini. Semoga endingnya tidak mengecewakan. Disini author cantumin salah satu quotes drama korea, yah walaupun gak mirip2 amat *author rada lupa*. Yesungdah…happy reading all ^^

Author POV

Donghae keluar dari rumah Joong Ki, ekspresinya terlihat begitu menyedihkan. Joong Ki melihat Donghae keluar dari rumah, ia tahu jika semua tidak baik-baik saja.

“gwaenchana?” Joong Ki menepuk pundak Donghae.

“ne hyung, aku pulang. Annyeong” donghae menunduk kemudian masuk kedalam mobil dan perlahan menjauhi rumah Hyo In, sekaligus menjauhi yeoja yang begitu ia cintai.

Joong Ki masuk kedalam rumah dan mendapati Hyo In tengah terisak sendirian diatas kursi rodanya. Ia kemudian menghampiri Hyo In.

“gwaenchana, aku tahu ini semua berat untukmu tapi oppa yakin kau pasti bisa melakukannya” ia berlutut memeluk Hyo In dan mengusap punggung Hyo In berusaha menenangkan adik semata wayangnya itu.

Setelah merasa lebih tenang, Hyo In melepaskan pelukan Joong Ki kemudian mengusap airmatanya dengan punggung tangannya.

“sudah kuputuskan, aku akan pergi oppa” Joong Ki menautkan kedua alisnya.

“kau yakin” Joong Ki terlihat sedikit khawatir mendengar ucapan Hyo In.

“ne, aku akan mecobanya meskipun aku tahu itu tidak akan mudah” Hyo In menunduk.

“geurae..kita bisa berangkat 1 minggu lagi” Hyo In mengangguk tanda mengerti.

”apa tidak bisa dipercepat”

”YA, kau pikir pergi ke New York itu sama dengan membeli ramen dikedai samping rumah” Joong Ki mencubit pipi Hyo In gemas.

“santai saja, jangan terlalu memaksakan diri” lanjutnya

“aku hanya ingin segera sembuh, aku tidak mau merepotkan oppa lagi”

“sudahlah jangan memikirkan hal itu, sebagai oppamu sudah menjadi tugasku untuk menjagamu” Joong Ki mengacak rambut Hyo In kemudian beranjak sambil mendorong kursi roda adiknya.

“kajja kuantar kau kekamar, kau harus banyak istirahat”

“ye..ye…arrata. dasar cerewet” Hyo In memajukan bibirnya tanda kesal.

1 week later

 

 

15th October 2012

@Incheon Airport

Hyo In kini tengah menunggu pesawat yang akan membawanya pergi ke New York untuk menjalani pengobatannya sekaligus membawanya menjauh dan melupakan namja yang begitu dicintainya, itupun jika ia sanggup melakukannya.

Sedari tadi ia hanya diam, pandangannya kosong seolah menerawang jauh mengingat apakah ada yang ia lupakan hari ini. Joong Ki dan Ahra saling menatap heran melihat sikap Hyo In.

“waegurae” pertanyaan Joong Ki  membuat Hyo In menoleh.

“eo, eopseo” Hyo In menggeleng.

“apa yang kau pikirkan” Hyo in menunduk terlihat sedang memikirkan sesuatu kemudian mendongakkan kepalanya.

“oppa, kau tahu sekarang tanggal berapa” pertanyaan Hyo In terdengar begitu menuntut.

“15, wae?” raut wajah Hyo In terlihat berpikir keras mencari apa jawaban yang tengah ia pikirkan sedari tadi.

“apa aku melupakan sesuatu”

“em, seingatku bukankan hari ini ulang tahun Donghae” Joong Ki menghentikan kata-katanya sejenak.

“wae” Joong Ki menatap lekat Hyo In.

“ani oppa, bukan itu yang sedang aku pikirkan. Sepertinya aku melupakan sesuatu tapi aku tidak tahu apa itu”

“sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kau cepat-cepat bersiap-siap, pesawatmu sebentar lagi berangkat” sela ahra mengingatkan Hyo In.

“eo. Nde” Joong Ki dan Ahra beranjak dari duduknya kemudian berdiri mendorong kursi roda Hyo In. Mereka berjalan menuju peasawat sambil mengobrol.

“kau, jaga dirimu disana. Jangan sampai terlambat makan, ikuti terapimu dengan baik disana. Arraseo”

“ne..ne..aku akan baik-baik saja oppa, kau tidak perlu khawatir”

“cepat sembuh Hyo In-ah, supaya kau bisa menghadiri acara pernikahan kami”

“jinjja, eonje eonnie? kenapa oppa tidak pernah memberitahuku kalau kalian akan menikah” pekik Hyo In karena terkejut mendengar pernyataan Ahra.

“tenang saja, kami akan menunggu sampai terapimu selesai”

“kenapa menungguku, jika aku hanya memperlambat rencana kalian aku tidak akan keberatan…”kata-katanya terpotong. Joong Ki menghentikan langkah mereka karena sudah sampai ditempat tujuan.

“sstt..kami tidak akan melangsungkan pernikahan kami tanpa kau. jadi, kau harus cepat sembuh. Yaksok” Joong Ki berlutut dihadapan Hyo In.

“ne oppa, yaksok” Hyo In mengangguk, dalam hatinya ia ingin menangis tapi ia menguatkan hatinya agar airmatanya tidak jatuh untuk kali ini saja. Kemudian mereka berpelukan erat.

“sesampainya di New York kau akan dijemput oleh sepupu eonnie, kau akan tinggal bersamanya selama pengobatanmu berlangsung” kini gantian Ahra yang memeluk Hyo In.

“ne, jeongmal gomawo eonnie” Hyo in masuk kedalam pesawat, Joong Ki dan Ahra pun langsung pulang, dan tidak menunggu waktu lama kini pesawat itu telah membawanya pergi menjauhi negara yang menyimpan begitu banyak kenangan dalam hidupnya.

Seorang namja berlari dengan tergesa,napasnya terengah seperti orang yang baru saja mengikuti lari marathon, pandangannya menyapu seluruh airport mencoba mencari seseorang yang teramat berarti baginya. Jebal…hajimara. batinnya.

Donghae POV

 

“mianhae Joong Ki-ssi, aku tidak bisa ikut mengantar Hyo In. Hari ini aku harus berangkat ke jepang, ada rapat dengan salah satu kolegaku disana” aku mendengar si monyet itu berbicara dengan Joong Ki hyung, tapi apa yang baru saja kudengar? Apakah telingaku sudah tidak normal? Benarkah Hyo In akan pergi? Eoddie? Dan untuk apa dia pergi? Apakah ia benar-benar akan meninggalkanku.

“ne, semoga dia cepat sembuh” monyet itu menutup telponnya, langsung kuhampiri dia.

“kemana Hyo In akan pergi” Hyukjae terlihat kaget.

“sejak kapan kau disini” jawabannya terdengar gugup.

“jawab saja pertanyaanku” napasku memburu, ia terlihat diam sejenak, apa yang sedang ia pikirkan.

“Hyo In akan pergi ke New York” DEG, mwo? New York?

“tapi untuk apa dia kesana hyung”

”dia..dia..akan menjalani terapi kakinya disana”

“mwo? Terapi kaki”

“ne,  Sebenarnya setelah kecelakaan itu ia tidak bisa menggerakkan kakinya lagi dan dia harus melakukan terapi disana”

“kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya” kuguncang tubuh monyet itu menuntut penjelasan darinya.

“mian, Hyo In sendiri yang memintaku untuk tidak mengatakan semuanya padamu karena itu akan membuatmu semakin sulit melepasnya”

“kapan pesawatnya berangkat”

“kurasa 10 menit pesawatnya akan take off. Chakaman…jangan bilang kau akan…” tak kupedulikan lagi ucapannya, yang kutahu sekarang hanya mengejar Hyo In dan tak membiarkannya meninggalkanku. Apa aku egois? Memang..

Sial..kenapa hari ini jalan begitu macet. Kutekan terus klakson mobilku namun mobil-mobil didepanku ini tak kunjung bergerak. Kulihat jam ditanganku, haish…kurang 5 menit lagi Hyo In akan berangkat. Akhirnya kuputuskan keluar dari mobil dan berlari menuju bandara, kurasa jaraknya sudah cukup dekat.

Sampai dibandara tak kuhiraukan lagi napasku yang hampir habis aku terus mencari Hyo In namun aku tak menemukannya. Kulihat papan pengumuman pesawat dari Korea – New York sudah berangkat 2 menit yang lalu. tubuhku menegang, aku tak kuat menyangga tubuhku sendiri, kakiku lemas..  aku terlambat.

2 years later

Author POV

Semenjak kepergian Hyo In ke New York, Donghae memutuskan untuk tetap tinggal di Korea membantu Hyukjae mengurusi SPENCER sementara AIDEN diurus oleh ayahnya. Kehidupan keluarganya memang baik-baik saja sampai saat ini, tak ada lagi yang mengungkit masalah 2 tahun lalu yang hampir membuat rumah tangga Donghae dan Hyun Rin diujung kehancuran.

Hyun Rin pun terlihat senang melihat sikap Donghae yang sudah kembali seperti saat mereka masih tinggal di China. Namun, kelakuan Donghae selama 2 tahun terakhir ini begitu aneh. Ia sering makan kimbap, buah-buahan tropis terutama semangka, padahal ia sangat tidak menyukai makanan itu. Tidak pernah mematikan lampu saat tidur padahal dulu ia paling tidak bisa tidur dalam keadaan terang. Hingga tertidur setelah selesai membaca dengan buku yang masih menempel diwajahnya, padahal Donghae akan sangat marah jika ada orang yang melakukan hal itu.

Bahkan pernah sekali ia keliru membelikan Hyun Rin sebuah novel, padahal ia tahu kalau Hyun Rin sangat suka membaca komik. Saat Hyun Rin mencoba menanyakan keanehan inipun Donghae hanya menjawab bahwa ia baik-baik saja. Tapi, Hyun Rin tidak berpikir seperti itu.

Hingga pada puncaknya saat Hyun Rin terjatuh dari tangga yang membuat kakinya terluka, bukan nama Hyun Rin yang dipanggil melainkan nama Hyo In hingga  Hyun Rin menemukan kenyataan yang membuatnya menyadari sesuatu.

Hyun Rin POV

Kurasa waktu 2 tahun sudah cukup untuk membenahi rumah tanggaku dan Donghae. Aku bahagia karena akhirnya semuanya berjalan dengan seharusnya. Donghae sudah kembali menjadi suamiku yang dulu. Bahkan ia juga tak pernah lagi menyinggung yeoja itu lagi.

Tapi ada sesuatu yang membuatku merasa asing dengan Donghae, perilakunya selama 2 tahun terakhir ini begitu aneh. Melakukan hal yang dulu sangat dibencinya, memakan makanan yang bahkan sebelumnya tak pernah ia sentuh, lupa dengan hal yang aku sukai hingga sesuatu yang teramat menyakitkan terdengar oleh telingaku. Ia memanggil namaku dengan nama yeoja itu.

Awalnya, aku tak begitu mempedulikan sikapnya. Tapi lama kelamaan semua itu membuatku risih dan akhirnya kuputuskan untuk menanyakannya pada Hukjae oppa.

Setelah selasai sarapan Donghae berangkat lebih dulu ke kantor sementara Hyukjae oppa lebih memilih istirahat dirumah karena semalam ia baru saja tiba dari Taipe karena ada urusan kantor.

Kulihat ia sedang menonton tv kemudian kuhampiri dia dan duduk disampingnya. Ia hanya menoleh sekilas kemudian kembali memperhatikan tv lagi.

“oppa, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?” ia menoleh

“hhem..mwo?” ia mematikan tv kemudian mengalihkan pandangannya padaku.

“ini mengenai Donghae, apa kau tidak melihat kalau akhir-akhir ini sikapnya begitu aneh” Hyukjae oppa mengangguk.

“memangnya apa saja keanehannya” Aigoo oppa, kukira kau tadi mengerti makanya mengangguk. Aku jengkel.

“begini, dia melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Seperti makan kimbap dan buah-buahan tropis terutama semangka, tidak pernah mematikan lampu saat tidur, membaca buku sampai ia tertidur. Bahkan ia pernah membelikanku novel padahal dia tahu kalau aku suka komik. Hyukjae oppa terlihat menghela napas kemudian tersenyum padaku.

“kau yakin mau mendengarkan jawabanku” aku langsung mengangguk tak sabar menunggu jawabannya.

Hyukjae POV

Setelah mendengar pertanyaannya, sebenarnya aku takut menjawabnya, takut jika ia akan sakit hati lagi. Tapi setelah ia meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa akhirnya kujawab semua pertanyaannya.

“sebenarnya, semua itu adalah kebiasaan Hyo In” Hyun Rin sedikit tersentak mendengar jawabanku.

“maksud oppa” suaranya terdengar menuntut.

“aku pernah menjalin hubungan dengan Hyo In jadi setidaknya itu yang kutahu dari kebiasaannya dulu” kuhela napas kemudian kulanjutkan ucapanku.

“Hyo in sangat menyukai kimbap dan buah-buahan tropis terutama semangka, dia akan ketakutan jika keadaan gelap, membaca sampai tertidurpun adalah kebiasaan Hyo In yang paling susah dihilangkan dan mengenai novel…itu adalah buku bacaan yang sangat dia sukai. Bahkan dia akan marah besar pada siapapun yang merusakkan novelnya.

Hyun Rin tertunduk lemah, aku tidak bermaksud membuka kembali luka lamanya. Tapi memang itulah kenyataannya. Ia kemudian pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun.

“ya, gwaenchana”

“ne” hanya itu jawaban yang kudapat darinya.

 

 

15th October 2014

@Incheon Airport

Hyo In POV

Aku baru saja menginjakkan kakiku dinegeri ginseng ini setelah 2 tahun meninggalkannya, menjalani pengobatanku yang cukup lama sekaligus mencoba melupakan namja itu. dan hasilnya? NIHIL. Semakin aku mencoba melupakannya aku akan semakin teringat dengannya. Malah aku semakin mencintainya. Bahkan pesona namja New Yorkpun tak sedikitpun menyentuh hatiku.

Kulihat seorang namja dan yeoja sudah menungguku dengan senyuman yang tak lepas dari bibir mereka. Aku berlari menghampiri mereka sambil menyeert koperku dan langsung menghambur kedalam pelukan mereka.

“jeongmal bogoshipeo oppa..eonnie” aku memeluk mereka erat. Ya tuhan, aku begitu merindukan mereka. Tanpa kuperintah airmataku sudah keluar dengan sendirinya. Aku bukan sedih melainkan begitu bahagia.

“nado saengie-ah” mereka menjawab bersamaan. Aku tersenyum mendengar kekompakkan mereka. Kulepaskan pelukan kami.

“neomu yeppeo, apa kau baik-baik saja disana” Joongie oppa mengelus rambutku kemudian memelukku lagi.

“ne” aku mengangguk kemudian Joongie oppa melepas pelukan kami dan mengangkat koperku.

“kajja kita pulang, kau pasti sangat lelah”

“ne, eonnie bahkan sudah memasakkan banyak kimbap untukmu hari ini”

“jinjja, em…gomawo eonnie. Aku pasti akan menghabiskannya nanti” aku menggandeng mereka berdua keluar bandara.

Sampai dirumah aku langsung menuju kamarku dan memasukkan semua pakaianku kedalam lemari. Saat aku membuka lemari, kulihat ada sebuah kotak berwarna biru safir berada dibagian paling bawah lemariku.

Begitu lama benda ini tersimpan hingga warnanya sedikit memudar. Kurasakan hangat dikedua pipiku, aku menangis. Bagaimana bisa aku melupakannya, aku sudah berjanji akan memberikanya untuk hadiah ulang tahunnya. Chakaman..tanggal berapa sekarang.

Kulihat diponselku tertera 15 oktober, aku tak tahu apa yang kupikirkan saat ini, apa aku sudah gila? Mungkin, tapi hatiku mengatakan kalau aku harus ketempat itu sekarang. Tempat yang menjadi awal kisahku bersama namja yang kucintai, tempat yang menjadi saksi bisu pertemuan, perpisahan, hingga penantianku dengannya.

Aku menuruni tangga dengan tergesa, tak kuhiraukan teriakan Joongie oppa yang memanggilku. “aku ada urusan sebentar oppa, aku tidak akan pulang larut” teriakku kemudian masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.

Sampai ditempat itu aku merasakan kesakitan itu kembali. Rasa sakit saat ia meninggalkanku, rasa sakit saat ia tak kunjung menepati janjinya. Perlahan aku mendekati bangku putih dibawah pohon mapple itu, airmataku kembali keluar mengingat semuanya. Kupandangi lekat benda yang ada ditanganku kemudian meletakkannya dibangku tersebut  dan beranjak meninggalkan tempat itu. saat aku berbalik kulihat seorang namja yang sudah berdiri dihadapanku tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun dariku.

Donghae POV

Seharian menyelesaikan tugas kantor membuatku ingin segera pulang dan mengistirahatkan otak dan tubuhku. Sampai dirumah kulihat sudah ada banyak makanan terhidang dimeja makan. ada acara apa memangnya, lalu Hyun Rin keluar bersama Hyukjae sambil membawa kue dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Mereka mendekat kearahku kemudian langsung kutiup lilinnya. “gomawo” aku tersenyum kemudian pergi menuju kamar meninggalkan tatapan heran mereka . Hah, aku sudah terlalu lelah. Kuputuskan untuk mengganti baju kerjaku dengan baju santai tapi karena udara terlalu dingin maka kuputuskan untuk memakai sweater saja.

Aku mencari sweaterku didalam lemari dan aku menemukan sweater pemberian Hyun Rin 3 tahun lalu. kenapa setiap melihat benda ini aku seakan mengingat sesuatu yang selama ini kulupakan tapi aku tidak tahu itu apa hingga tiba-tiba aku mengingat sesuatu.

Ya, aku harus kesana. Itulah hal pertama yang ada diotakku. Kuletakkan kembali sweater itu kemudian menyambar mantel yang tergantung rapi ditempatnya, aku keluar kamar dan langsung menuju garasi mobil. Belum sempat aku masuk mobil suara Hyun Rin menghentikanku.

“kau mau kemana”

“aku ada urusan sebentar, kau tidak usah menungguku” kemudian aku masuk mobil dan melesatkannya semakin menjauhi rumah menuju tempat sedari tadi terus berada dipikiranku.

 

 

@Dragon Park

Author POV

Donghae sudah sampai di taman kemudian ia begegas menuju tempat yang sudah lama tak ia kunjungi, bahkan mungkin sudah mulai ia lupakan. Saat ia mendekat ketempat tersebut, ia tertegun melihat seorang gadis tengah duduk sambil memegang erat sebuah kotak kemudian meletakkannya dibangku tersebut dan beranjak meninggalkan tempat itu. kini, pandangan mereka bertemu. Terkejut, itulah ekspresi wajah mereka saat ini. Mata mereka saling menatap lama. Mereka tengah memutar kembali potongan-potongan kisah mereka ditempat tersebut.

#Flashback on

Saengil chukae hamnida.. Saengil chukae hamnida..

saranghaneun nae fishy.. Saengil chukae hamnida..

Seorang yeoja bernyanyi riang sambil bertepuk tangan disamping seorang namja yang sedari tadi tak pernah berhenti tertawa melihat tingkah yeojanya. Namja itu kemudian memeluk erat  yeojanya seakan mereka akan terpisah selamanya.

“jeongmal gomawo Hyo In-ah” bisik namja tersebut tepat ditelinga yeojanya kemudian sekilas mencium pipi yeoja tersebut.

“ya, nappeun namja” yeoja itu mendorong tubuh namjanya dengan mengerucutkan bibirnya. Namja itu hanya tertawa.

“mana hadiah untukku” yeoja itu terlihat menunduk kemudian mengambil sebuah baju rajut setengah jadi dengan beberapa gulungan benang dan jarum yang masih menempel.

“mianhae..harusnya ini sudah bisa kau pakai sekarang, tapi ternyata aku belum bisa menyelesaikannya” namja itu menarik yeojanya kedalam pelukannya sambil mengusap punggungnya.

“gwaenchana” namja itu menenangkan yeojanya.

“apa kau akan benar-benar pergi Donghae-ah” yeoja itu mendongak didalam dekapan hangat namjanya.

“ne, aku harus pergi Hyo In-ah. Keluargaku membutuhkanku sekarang”

“apa kau akan kembali” pertanyaan Hyo In membuat Donghae sontak melepaskan pelukannya kemudian menatap lekat Hyo In. Kemudian tersenyum lembut.

“Dengar Hyo In-ah, kau adalah kampung halamanku. Jadi, sejauh apapun aku pergi, selama apapun aku meninggalkanmu, aku akan tetap kembali padamu” ucapan Donghae membuat Hyo In menangis haru.

“uljima..selesaikan saja sweatermu itu. dan aku akan mengambilnya ditempat ini. Tunggu aku disini. Ditanggal dan bulan yang sama. Aku pasti kembali” Donghae mengusap airmata Hyo In dengan kedua ibu jarinya.

“geurae, aku berjanji saat kau kembali nanti. Sweater ini pasti sudah jadi, yaksok” Hyo In mengajukan jari kelingkingnnya

“yaksok” Donghae menyambutnya dengan jari kelingkingnya. Kemudian mereka berpelukan dengan erat seolah tak ada seorangpun yang bisa memisahkan mereka.

#Flashback off

Lama mereka larut kedalam memori masa lalu. Hyo In sadar tak seharusnya ia berada ditempat ini kemudian ia menggelengkan kepala pelan dan berbalik hendak meninggalkan Donghae namun suara Donghae menghentikannya.

“hajima…jebal” suara Donghae memohon. Hyo In menoleh kemudian menatap Donghae sesaat dan melanjutkan langkahnya namun terhenti kembali karena teriakan Donghae.

“jebal Hyo In-ah, dorawa” Dongahe berusaha mengejar Hyo In namun terhenti karena seseorang kini menggenggam tangannya.

“andwae…kau tidak boleh kembali padanya” suara Hyun Rin membuat Hyo In kembali menghentikan langkahnya kembali dan menoleh kesumber suara. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan Hyun Rin ada ditempat ini.

“jebal Hyun Rin-ah lepaskan aku, jebal” suara  Donghae terdengar begitu memilukan.

“shireo” Hyun Rin semakin mempererat genggaman tangannya.

Donghae menoleh kearah Hyo In kemudian kembali menatap Hyun Rin.

“jebal..lepaskan aku.  Aku mohon sekali ini saja Hyun Rin-ah” lirihan Donghae membuat Hyun Rin menunduk sesaat memikirkan sesuatu kemudian perlahan merenggangkan genggamannya perlahan kemudian terlepas.

“kha…kembalilah pada Hyo In” Hyo In menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Terkejut, mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Hyun Rin. Donghae hanya rediam melihat apa yang dilakukan Hyun Rin.

“aku baru sadar bahwa hati memang tidak pernah bisa dipaksakan. Aku sadar sampai kapanpun aku takkan pernah bisa memiliki hatimu. Sekeras apapun usahaku manjauhkan kalian toh itu semua tidak akan mampu meruntuhkan benteng cinta kalian.

“gomawo Hyun Rin-ah..akhirnya kau mengerti” donghae menggenggam tangan Hyun Rin. sesaat kemudian berlari kearah Hyo In yang hanya diam mematung setelah melihat dan mendengar apa yang baru saja terjadi.

Donghae memeluk Hyo In erat, ia terisak dipundak Hyo In. Teramat merindukan yeoja itu. awalnya tak ada respon dari Hyo In, namun lama-kelamaan ia mulai membalas dekapan hangat namja yang begitu ia rindukan. Membenamkan wajahnya pada dada bidang Donghae. Mereka terisak, melepaskan semua rasa rindu yang tertahan selama ini. Hyun Rin tersenyum kemudian pergi meninggalkan mereka.

“jeongmal jeongmal bogoshipeo” Donghae semakin mempererat pelukannya sementara Hyo In hanya mengangguk ditengah isakannya. Lama mereka diposisi tersebut hingga Donghae membuka suara.

“apa kau tidak lelah berdiri terus seperti ini” pertanyaan Donghae membuat Hyo In tertawa ditengah tangisannya. Kemudian Donghae menuntun Hyo In duduk disampingnya dibangku putih tepat dibawah pohon mapple.

“ige, bukankah hari ini masih ulang tahunmu”  Hyo In mengambil kembali benda yang tadi diletakkan dibangku tersebut. Donghae menerima benda tersebut kemudian membukanya dan mengambil isinya. Donghae tersenyum melihat sweater berwarna coklat muda dengan tulisan “FISHY” dibagian depannya. Sederhana, namun begitu berarti banginya karena ini adalah buatan tangan yeojanya.

“kau sudah menyelesaikannya”

“tentu saja, sebenarnya aku menyelesaikan ini sejak setahun kau pergi. Tapi kau tidak juga kembali” jawab Hyo In datar.

“kenapa lama sekali,apa kau tahu kalau aku hampir saja putus asa, aku pikir kau benar-benar tak akan kembali” Hyo In menunduk mengingat semuanya. Donghae kemudian mendekap tubuh Hyo In (lagi).

“mianhae..jeongmal mianhae. Aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama” Donghae mengelus rambut Hyo In dan mengecup pucak kepalanya.

“jangan pernah tinggalkan kampung halamanmu lagi, jangan jadikan kampung halamanmu ini sebagai terminal saja, tetaplah bersamaku, tetaplah jadi milikku selamanya” Donghae melepas pelukannya kemudian menangkup wajah Hyo In dengan kedua tangannya.

Chu~ bibir Dongahe mendarat tepat dibibir Hyo In. Sejenak merasakan kelembutannya sebelum melepaskannya.

“ne..aku tidak akan meninggalkanmu lagi, aku akan tetap bersamamu dan hanya akan jadi milikmu, selamanya akan tetap seperti ini”

The End_

Hooaaahhh…alhamdulillah….akhirnya kelar juga ni ff #ngelap keringet.

gimana readers endingnya? Bagus gak..hahahaha

(readers: bgus bgt thor) *author kePDan

terimakasih buat readers yang sudah mengikuti ff saya ini dari mulai part 1 sampe END. Dan juga Makasih buat nae chingudeul yang sudah memberi saya sedikit banyak masukan. RCL…RCL..^^

Annyeong….sampai jumpa di ff saya berikutnya

*kalo jadi. Kekekekeke^^

#teriak bareng oppadeul SJ

12 thoughts on “Stay [Part 5-END]

  1. huaaaaa.. THE END?? aq kira Hyun Rin bakal tetap brsikukuh memprtahankan Donghae.. tpi.. ha3x.. namanya juga J.O.D.O.H.. pasti tetep bakal bersamakan..?

  2. end ?

    boleh coment ?
    jangan marah ya ^^

    cerita ini egois menurut ku
    hanya memikirkan peran tokoh utama

    dari awal aku egk mau mereka balikan

    *di bunuh author*

    maaf ya kalok coment ku menyakitkan
    jongmal mianhe chingu ya

    overall keren ide cerita yang bermutu

    konfliknya juga egk terlalu berlebihan

    aku ngilang dulu ya
    nanti muncul lagi maaf tadi ada salah kasi conent di oart squel ff ini

    dan maaf kalok coment aku di sini
    egk enak buat di baca
    mian

  3. cie so sweet kaliiiii ><
    Akhirnya hyu rin ngelepas donghae!!! Hahahahahahah seneng deh happy ending xD next mau baca yg sequel nya xD

  4. Akhirnya mereka ketemu lagi..dan saling melepaskan kerinduan mereka..
    Klo mereka kembali bersama, gimana nasib Hyun Rin yaw, Hyun Rin-Donghae khan masih menikah, kasian..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s