Haengbok [2nd Sequel of Stay]

Title        : Haengbok [2nd Sequel of Stay]

Author        : Valuable94

Genre        : Romance

Leght        : Oneshot

Main Cast    : Lee Donghae, Song Hyo In

Support Cast    : Shin Je Ra

Disclaimer    : adakah yg masih ingat ff author?, ini adalah sequel kedua sekaligus terakhir *amin* dari ff author yang sebelumnya. Mian lama banget jadinya, soalnya author lagi gak mood nulis. Mungkin ff ini akan tambah gaje soalnya author nulisnya sambil ngimpi *author michyeo*. Hargai karya orang lain, ff ini MURNI DARI OTAK AUTHOR, DON’T COPAS, DON’T BE SILENT READERS. Wookie lah! Buat yang udah nunggu atopun yang nggak nunggu…

Happy reading all

Meokpo, Jeollu, South Korea

@HaeIn’s Room

Donghae POV

“aaakkhhhh” aku terbangun dari tidur nyenyakku karena suara teriakkan itu, kulihat Hyo In sudah terduduk diranjang dengan menutup mulutnya. aish! Kenapa pagi-pagi begini dia sudah teriak-teriak. Aku ikut duduk dan berusaha mendekatinya dengan mata sedikit tertutup TAPI kenapa dia malah semakin menjauhiku.

“kenapa oppa tidur dikamarku?” mwo? Kubuka lebar-lebar mataku mendengar pernyataannya.

“ya! Aku ini suamimu chagi-ya, ini kamarku juga. Aish..kenapa kau jadi menyebalkan seperti ini” kuacak rambutku frustasi karena kelakuannya yang aneh.

Ini bukan pertama kalinya aku mengalami kejadian seperti ini, 3 bulan semenjak dia hamil entah kenapa melihat wajahku saja dia tidak mau. Katanya itu membuatnya semakin membenciku, awalnya hanya tidak mau bertemu saja tapi lama kelamaan dia juga tidak mau tidur denganku.

Aku harus rela tidur dikamar tamu selama hampir seminggu dan itu membuatku tidak tahan hingga akhirnya kupaksakan untuk diam-diam masuk kekamar dan tidur disampingnya. Dan hasilnya, seperti yang kalian lihat dia selalu saja berteriak seperti melihat setan.

“aigoo, aku harus bilang berapa kali kalau aku tidak suka melihat wajah ikanmu. Itu membuatku semakin mu…..hooeekk” dia langsung berlari kekamar mandi sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Kuikuti langkahnya menuju kamar mandi. Sedikit tergesa karena takut terjadi apa-apa dengannya walaupun ini sudah sering terjadi.

“gwaenchana?” kupijit tengkuknya membantunya mengeluarkan isi perutnya yang kurasa hanya air saja. Dia hanya mengangguk lemah sambil membasuh mulutnya.

Kusibak rambut panjangnya yang tergerai hampir menutupi seluruh wajahnya. Kutuntun tubuhnya keluar kamar mandi kemudian mendudukkannya dipinggir ranjang. Kutangkup wajahnya yang terlihat semakin pucat, mengelap keringat dingin yang perlahan mengalir dari dahinya.

“aegi-ya, jangan menyusahkan eomma-mu ne” Kuelus dan kucium perutnya yang sedikit membuncit sekarang. Tiba-tiba “hooeekk…. sooooorrrrr” *mian, author gak bisa bikin backsound* kurasakan basah dibahu dan hampir seluruh punggungku. Kulihat ekspresi Hyo In yang seakan mengatakan ‘mianhae’ sambil menutupi mulutnya. Chagi-ya, kenapa kau menghukumku seperti ini, batinku. Kuhela napas bermaksud mengontrol emosiku yang hampir saja meledak pagi ini. Ingat Donghae istrimu sedang hamil, kau harus menjaga emosimu. Kalau saja dia tidak sedang hamil mungkin sudah ku ‘hukum’ yeoja menyebalkan ini.

“Hmm..kau istirahat saja, pagi ini biar Kim ahjumma saja yang menyiapkan sarapan dan  membersihkan rumah. Aku harus kekantor hari ini” Kurebahkan tubuhnya kemudian menyelimutinya sampai batas leher. Kudekatkan wajahku kewajahnya berusaha mencium dahinya tapi tiba-tiba tangannya menahan dadaku.

“andwae oppa, kau mau membersihkan ranjangnya kalau aku sampai muntah disini”

“aarrghh..geurae” kuacak rambutku kemudian beranjak menuju kamar mandi, kudengar dia terkikik melihat ekspresiku. Apa kau puas nyonya Lee?

Hyo In POV

Sebenarnya aku merasa bukanlah istri yang baik, semenjak aku hamil entah kenapa aku benci sekali melihat wajahnya dan itu membuatku semakin mual. Sampai-sampai Donghae harus menyewa Kim ahjumma untuk membantuku mengurus rumah dan suaminya sebagai sopirku kemana-mana karena aku tidak mau dekat-dekat dengan Donghae.

Lihat saja ekspresinya pagi ini, kurasa aku sudah membuatnya kesal lagi dan itu sudah sering terjadi setiap kali dia menyusup masuk kekamar memaksa tidur bersamaku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa tidak mau tidur dengan suamiku sendiri, ani tapi anak ini yang tidak mau bertemu dengan appa-nya. Ya! Nappeun aegi-ya.

Kuelus perutku yang sedikit membuncit sambil tersenyum sendiri kalau mengingat tingkah Donghae tadi.

“ya! Kau ini kenapa sebenarnya. Kenapa tersenyum sendirian” suara itu mengagetkanku kemudian kutoleh ternyata namja ikan ini baru saja selesai mandi.

“eopseo” kumiringkan tubuhku membelakanginya kemudian kututup seluruhnya dengan selimut.

“haish” kudengar dia sedikit mendengus kesal.

Aku tidak bisa tidur didalam selimut ini, terlalu panas. Akhirnya kuputuskan untuk bangun saja, kulihat Donghae sedikit kesulitan memasang dasinya. Kuhampiri dia bermaksud membantunya walaupun aku sedikit takut kalau akan memuntahinya lagi.

“biar aku saja” kubetulkan dasinya yang berantakan sementara dia hanya menatapku dengan ekspresi yang kesal. Kenapa namja ini, aku kan hanya berusaha jadi istri yang baik.

“jangan dipaksakan, aku tidak mau kalau harus mengganti baju lagi” kutatap wajahnya dengan kesal kemudian beralih kedasinya lagi.

“semakin kau mengajakku bicara kemungkinan untuk memuntahimu lagi akan semakin besar” seketika ia menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala seperti anak kecil yang tidak mau disuapi. Aku hanya tersenyum geli melihatnya .

“nah..selesa…em” kututup mulutku, kurasa aku akan muntah lagi. Aku bergegas kekamar mandi dan memuntahkan isi perutku yang sudah tidak ada isinya ini. Donghae menghampiriku lagi dan memarahiku karena terlalu memaksakan diri. Aish..kenapa dia semakin cerewet saja.

Author POV

Pagi ini seperti biasanya Donghae harus berangkat kekantor karena ada meeting penting dengan investor dari Canada. Dalam hatinya sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Hyo In dirumah walaupun sudah ada Kim ahjumma, tapi mengingat sifat Hyo In yang akhir-akhir ini tidak mau bertemu dengannya memaksanya untuk tetap meninggalkan Hyo In.

4 bulan kemudian

Lewat 4 bulan usia kandungan Hyo In, perlahan sifatnya mulai berubah. Dia malah semakin senang bertemu dengan Donghae dan tambah manja. Pagi hari dia akan dengan senang hati memasak kemudian melihat Donghae sarapan walaupun dia tidak ikut sarapan. Ya, dia hanya senang memandang Donghae yang sedang makan bahkan saat Donghae harus lemburpun Hyo In akan memaksanya untuk membawa pekerjaan Donghae kerumah agar Hyo In bisa menunggunya yang sedang bekerja.

Hal itu membuat Donghae gembira karena Hyo In sudah tidak membencinya lagi sekarang, tapi lama kelamaan itu malah semakin membuat Donghae repot karena sejujurnya Hyo In tidak mau ditinggal oleh Donghae. Ditambah dengan ngidamnya yang aneh.

@HaeIn’s Room

12 A.M

“oppa” Hyo In mengguncang tubuh Donghae yang berada disampingnya

“hem” donghae hanya bergumam karena ia sudah  sangat mengantuk

“aku ingin makan es krim pisang” seketika Donghae membuka matanya kemudian melihat jam diatas nakas dekat ranjangnya. Mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa kalimat ‘ Kim ahjusshi, tolong belikan es krim pisang di mini market’ Kemudian meletakkan ponselnya dan memejamkan matanya kembali.

“ya, oppa ireona!” Hyo In semakin kencang mengguncang tubuh Donghae.

“wae? aku sudah menyuruh Kim ahjusshi untuk membelikanmu es krim dimini market kau tunggu saja” jawabnya santai dengan mata yang masih tertutup.

“tapi aku ingin makan es krim pisang di pasar malam kemarin oppa” rengeknya. Kemudian Donghae duduk dan bersandar dikepala rangjang yang diikuti oleh Hyo In.

“aigoo..ini masih tengah malam chagi-ya, pasar malam sudah tutup” Hyo In hanya menunduk dan menghela napas kecewa. Melihat reaksi Hyo In yang terlihat kesal Donghae hanya tersenyum sekilas kemudian menarik tubuh Hyo In kedalam pelukannya merelakan dada bidangnya sebagai sandaran Hyo In.

“gwaenchana, kau makan saja dulu es krim yang sudah kupesan. Besok pulang dari kantor aku akan mengantarmu membeli es krim itu, eo?” ucapnya sambil mengusap rambut Hyo In.

“jinjja? Yaksok?” Hyo In mengangkat kapalanya dan menatap wajah Donghae, terlihat wajahnya yang berubah seketika menjadi begitu gembira. Donghae mengangguk sambil mengelus rambut Hyo In kemudian Hyo In kembali menutup matanya.

Sebenarnya anak seperti apa yang akan kau lahirkan, kenapa dia begitu menyebalkan sekali. Batin Donghae sambil mengelus perut Hyo In yang sudah besar karena usianya sudah 8 bulan sekarang. Tiba-tiba terasa sesuatu menyentuh tangan Donghae dari dalam perut Hyo In. Donghae tersenyum tahu bahwa anaknya juga ikut merasakan apa yang ia pikirkan. Cepatlah keluar, appa sudah tidak sabar ingin melihatmu. Katanya dalam hati kemudian ikut menyusul Hyo In kealam mimpi.

Donghae POV

Malam ini aku mengantarkan Hyo In membeli es krim dipasar malam. Dia terlihat begitu senang sekali selama perjalanan, haah…rasanya rasa lelahku seharian ini terbayar karena melihat senyumnya. Setibanya dipasar malam Hyo In langsung menarikku ketempat ahjusshi penjual eskrim kemarin. Setelah membeli es krim pun dia langsung mengajakku pulang. Kami berjalan menyusuri lapak-lapak pedagang menuju parkiran.

“kau benar-benar tak ingin makan yang lainnya? Disini banyak makanan enak” tanyaku. Dia hanya menggeleng sambil memakan es krimnya dan itu membuat sedikit es krimnya tertinggal diujung bibirnya. Kuhentikan langkahku dan menarik bahunya hingga memaksanya menatapku.

“wae?” dia menatapku penuh tanya. Aku hanya tersenyum kemudian mengelap ujung bibirnya dengan ibu jariku.

Dia sedikit terkejut kemudian pergi tanpa menghiraukanku dengan menekuk wajahnya. Kuikuti dia dan mensejajarkan langkah kami.

“wae gurae?”

“……….” tak ada jawaban, dia malah semakin menikmati acara makan es krimnya. kugandeng tangan kirinya yang tidak membawa apa-apa dan sedikit mengayunkannya.

“kau menyebalkan” sontak aku menoleh kearahnya setelah mendengar ucapannya.

“aigoo…apa lagi yang salah dariku, eo?”

“kukira kau akan membersihkan bibirku dengan bibirmu seperti di drama-drama yang sering kutonton, tapi ternyata” apa dia bilang? Apa dia benar-benar ingin aku melakukannya? Kenapa dia jadi sejujur ini. Padahal biasanya dia mati-matian menolak jika aku ingin menciumnya, tapi sekarang? Hahaha.

“ Aish…lagipula kau tidak mungkin bisa melakukan hal seromantis itu” ia merutuki dirinya sendiri. Kubiarkan dia berbicara terus sampai diparkiran yang cukup sepi, kudorong tubuhnya hingga sedikit membentur mobil. Mianhae chagi-ya, aku hampir lupa kalau kau sedang hamil.

“mau apa kau?” suaranya bergetar

“jangan pura-pura tidak tahu, bukankah kau menginginkannya” kudekatkan wajahku mempersempit jarak wajah kami, tapi Hyo In malah mendorong tubuhku.

“sudah terlambat, aku sudah tidak mood lagi berciuman denganmu” ia pergi, kutarik tangannya kemudian kutangkup wajahnya mengulangi kejadian yang sempat tertunda tadi tapi sebuah suara menghentikannya (lagi).

Hyo In POV

“Donghae-ah” suara itu membuatku langsung menoleh kesumber suara yang ternyata seorang, yeoja? Rambutnya pirang dan bergelombang dibagian bawahnya, memakai baju yang cukup seksi dan sekarang dia menghampiri kami. Mau apa yeoja ini? Apa dia mengenal Donghae?

Tiba-tiba Donghae melepaskan pelukannya dan tersenyum pada yeoja ini. Apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Mereka bersalaman kemudian yeoja ini MENCIUM pipi kanan dan kiri Donghae. Aku hanya diam terpaku melihat mereka berdua yang terlihat mesra, kurasa. Dadaku bergemuruh, detak jantungku semakin cepat, aku cemburu? Ya, siapa istri yang tidak marah melihat suaminya dicium oleh yeoja lain.

“seo yeon-ah, bagaimana kabarmu?”

“baik, kau sendiri? Kudengar kau sudah menikah, apa itu benar?” ya! Apa kau tidak melihat yeoja hamil disampingnya? Kau pikir ini semua gara-gara siapa.

“ah ne, kenalkan ini istriku Song Hyo In ani Lee Hyo In benarkan chagi-ya” ucap Donghae merangkul pundakku sambil tersenyum menatapku.

“Lee Hyo In imnida, bangapseumnida” ucapku kemudian mengulurkan tanganku bermaksud bersalaman dengannya.

“oh, Shin Je Ra imnida” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya kemudian mengajak Donghae ngobrol lagi seakan aku tidak ada. Aish…dasar tidak sopan. Kubuang es krim yang sudah meleleh ditanganku kemudian kutinggalkan mereka berdua.

“chagi-ya, kau mau kemana?”Kudengar suara Donghae memanggilku

“sudahlah, biarkan saja. Mungkin dia sudah kelelahan” kuurungkan niatku untuk berbalik setelah mendengar suara yeoja itu mengalihkan perhatian Donghae lagi. Geurae…nikmati saja semuanya. Perlahan hangat kurasakan mengalir dipipiku. Dadaku sesak, kuhapus airmataku kemudian masuk kedalam mobil aku tidak sanggup melihat pemandangan menyakitkan itu.

“ya! Apa kau tidak tahu sikapmu tadi menyakiti hatinya” kudengar suara Donghae dari dalam mobil, suaranya meninggi sepertinya dia sedang marah.

“apa kau tidak bisa merubah sikap kurang sopanmu itu? Dia hanya berusaha mengenalmu” apa dia sedang membelaku? Kenapa aku jadi senang begini mendengar kata-katanya.

Sesaat kemudian kudengar pintu mobil terbuka dan Donghae masuk dengan napas yang terengah. Sepertinya dia baru saja marah.

“mianhae” dia menggenggam tanganku sangat erat.

“aku tahu kau marah padaku, jebal jangan diam terus chagi-ya” suaranya terdengar memohon

“lupakan, aku tidak marah padamu. Aku hanya tidak suka dengan sikapnya tadi” kubalas genggaman tangannya berusaha mengisyaratkan kalau aku memang tidak marah dengannya.

“kajja kita pulang, aku lelah”

“ne, gomawo” dia mengangguk kemudian mulai melajukan mobilnya.

Author POV

Diperjalanan pulangpun Hyo In lebih memilih diam sambil sesekali mencuri pandang pada Donghae.

“wae, Apa ada yang ingin kau tanyakan?” suara Donghae menyadarkan Hyo In.

“sebenarnya siapa Jung Seo Yeon itu?”

“dia mantan yeojachinguku saat masih SMA, kami putus karena dia terlalu posesif kemudian saat kuliah dia dikuliahkan oleh appa-nya ke London. Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu, aku sendiri juga sedikit terkejut kenapa dia ada dikorea sekarang. Apakah sudah cukup penjelasanku?” Hyo In hanya mengangguk mengerti, entah mengapa ia selalu percaya dengan apa yang dikatakan Donghae walaupun awalnya dia begitu marah dengan namja ini.

“apa masih ada yang mengganggu pikiranmu? Tanyakan saja, aku akan dengan senang hati menjawabnya”

“apa kau masih mencintainya?”

“ani, aku mencintaimu dan hanya mencintaimu dan Cuma kau satu-satunya yeoja yang bisa membuatku tak bisa melirik yeoja lain” Hyo In menghela napas dan tersenyum. Donghae yang tahu ekspresi istrinya itu hanya menggeleng kemudian mengacak rambut Hyo In gemas.

Keesokan harinya

Siang ini Hyo In sudah menyiapkan seafood untuk makan siang untuk Donghae, ia bermaksud mengantarnya kekantor Donghae dan membuat kejutan untuknya karena Dongahe tidak mengetahui rencananya.

Dia sudah sampai dilobi SPENCER kemudian ia bergegas menuju lantai 5 menuju ruangan Donghae. Setibanya diruangan Donghae, Hyo In langsung membuka pintunya dan mendapati Donghae yang tengah berciuman dengan seorang yeoja.

Donghae POV

Haah…akhirnya selesai juga pekerjaannku siang ini, jadi aku bisa segera pulang.

drrtt..ddrrtt

suara telfon kantor berbunyi, pasti dari sekretarisku.

“mwohaneungoya”

“ada yang tamu untuk sajangnim, aku sudah melarangnya masuk tapi dia tetap memaksa ingin masuk”

“suruh saja dia masuk sekarang, pekerjaanku sudah selesai”

“ne sajangnim”

Tak lama kemudian terdengar suara pintu ruanganku terbuka dan menampakkan yeoja berambut pirang yang sudah pasti kukenal. Shin Je Ra.

“apa aku boleh duduk disini” aku hanya diam, bahkan sebelum kujawab dia sudah mendudukkan dirinya disofa.

“darimana kau tahu tempat ini?” tanyaku tapi tetap tak beranjak dari belakang meja kerjaku.

“kurasa sangat mudah bagiku untuk mendapatkan informasinya, kau tahu kan appa-ku orang yang cukup berpengaruh di Korea” ucapnya dengan senyum meremehkan.

“mau apa kau kesini?” dia menghampiriku kemudian berdiri tepat didepanku mnyandarkan tubuhnya dimeja kerjaku.

“aku hanya ingin minta maaf karena kejadian kemarin, dan aku ingin menebusnya. Bagaimana dengan secangkir kopi?”

“harusnya kau minta maaf pada istriku, bukan aku”

“lagipula aku juga tidak ada waktu untukmu Je Ra-ah, aku sibuk hari ini” aku beranjak dari dudukku bermaksud keluar dari ruanganku namun tiba-tiba kurasakan ada yang menarik tanganku kemudian menarik tengkukku dan mengunci bibirku. Aku terpaku menerima perlakuaannya.

Ini salah, aku tidak boleh seperti ini. Kemudian kudorong tubungnya. Krek suara pintu ruanganku terbuka bersamaan dengan terlepasnya tautan bibir kami, tiba-tiba Je Ra menarikku kembali dan sesaat kemudian terdengar suara benda terjatuh.

BRAK, kembali kudorong tubuh Je Ra dan menoleh kebelakang kearah sumber suara tersebut.

“chagi-ya” gumamku

“m..m..mi..mian, kalau aku mengganggu kalian. kurasa kedatanganku kurang tepat, nan kalkke” suaranya bergetar, matanya memerah kemudian ia meninggalkan kami dengan tergesa. Ani chagi-ya…ini semua tidak seperti yang kau lihat.

“kajima chagi-ya, ini tidak seperti yang kau lihat” kukejar Hyo In namun tanganku kembali ditahan oleh Je Ra.

“sebenarnya apa yang kau inginkan, eo?” suaraku meninggi, sudah cukup aku menahan amarahku kali ini, dia sudah membuat keadaan semakin kacau.

“apa yang kau lihat dari gadis itu, kurasa aku lebih cantik dan lebih kaya darinya. Kenapa tidak kau tinggalkan saja dia, Donghae-ah..aku masih mencintaimu”

“jaga ucapanmu, kau tidak tahu apa-apa tentang istriku. Ternyata kau masih sama seperti dulu, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Kalaupun semua yang kau katakan itu benar, bagiku dia seribu kali lebih baik darimu. Dan ingat Je Ra-ah, jangan pernah menemuiku lagi, hubungan kita sudah lama berakhir”

Kuhempaskan tangannnya kemudian berlari menyusul Hyo In, semoga saja dia belum jauh. Sampai dilobipun aku tetap tidak menemukannya. Aku terus berlari ke parkiran, kuedarkan pandanganku namun tidak jua kutemui sosok Hyo In. Kuambil kunci mobil kemudian bergegas pulang, kuharap Hyo In berada dirumah sekarang.

Author POV

Didalam mobil, Hyo In menangis sejadi-jadinya hari ini, dalam hatinya ia selalu menyangkal apa yang baru saja ia lihat bukanlah kenyataan. Namun ia juga tidak bisa memungkiri kenyataan yang baru saja terjadi. Napasnya tersengal, tangan Hyo In bergetar menggenggam erat ujung dressnya berusaha mengendalikan emosinya namun kali ini ia benar-benar tak mampu membendungnya.

“nyonya, gwaenchana” bahkan pertanyaan Kim ahjusshi pun tak mampu ia jawab. Kim ahjusshi pun hanya mampu menghela napas melihat keadaannya nyonya-nya yang terlihat berantakan.

Perlahan napas Hyo In mulai teratur kembali, diusap airmatanya dengan punggung tangannya.

“antarkan aku ketaman saja ahjusshi”

“apa tidak sebaiknyanyonya pulang saja”

“ani, aku ingin ketaman dulu” elak Hyo In kemudian Kim ahjusshi hanya bisa menuruti keinginan majikannya.

@Dragon Park

“ahjusshi pergi saja, nanti kalau suamiku menanyakanku bilang saja aku sedang tidak ingin diganggu” Hyo In berlalu tanpa menunggu jawaban Kim ahjusshi.

Ia memilih duduk ditempat yang begitu banyak menyimpan kenangannya bersama Donghae. Hyo In hanya termenung tanpa bicara sedikitpun, pikirannya tetap tetuju pada Donghae. ponselnya kembali berdering, Hyo In hanya membiarkannya saja tanpa berniat untuk mengangkatnya. Tertulis 52 missed call dari orang yang sama “nae fishy”. Kemudian ia membuka posel dan membuang baterainya. Masih berani kau menghubungiku? Batin Hyo In.

Sudah hampir 4 jam Hyo In hanya berdiam diri ditaman tanpa melakukan apapun, karena mataharipun hampir pulang keperaduannya dan taman ini juga semakin sepi akhirnya Hyo In memutuskan untuk pergi dari taman. Ia beranjak dari duduknya, belum sempat ia melangkahkan kakinya seseorang sudah memeluknya dari belakang. Hyo In begitu hafal dengan pelukan ini, ia hanya menunduk kemudian tanpa dikomando airmatanya kembali mengalir.

“Aku tahu kau pasti kesini, mianhae chagi-ya..jeongmal mianhae. Ijinkan aku menjelaskannya. Semuanya tidak seperti yang kau lihat” ucapnya disela tangisnya, bersalah itulah yang Donghae rasakan saat ini.

“kharago…aku tidak ingin melihat wajahmu” ucapan Hyo In seperti petir yang menyambar Donghae tiba-tiba. Tubuh Hyo In bergetar, Donghae tahu ia sedang  menangis. Donghae membalikkan tubuh Hyo In kemudian menangkup wajah Hyo In yang tertuduk dengan kedua tangannya. Jebal…jangan lakukan ini oppa, kau membuatku semakin tak kuasa membencimu, batin Hyo In.

“dengarkan aku, aku tidak tahu sudah berapa kali aku melakukan kesalahan padamu. Tapi untuk kali ini saja, berikan kepercayaanmu padaku lagi. Aku mencintaimu, aku hanya bisa mencintaimu” Hyo In semakin tak mampu menahan semuanya, dalam hati ia memang tak pernah bisa membenci Donghae.  Setelah mendengar penjelasan Donghae hatinya kembali luluh, terkadang ia berpikir kalau ia adalah yeoja yang bodoh karena selalu mempercayai ucapan Donghae pada akhirnya walaupun ia selalu kecewa pada awalnya, namun inilah bentuk cintanya kepada Donghae, ia melumpahkan semua kepercayaannya. Hyo In memeluk Donghae erat seakan tak mau melepasnya lagi.

“naneun mideoyo oppa” ucapnya sambil terisak didalam pelukan Donghae.

“gomawo chagi-ya, jeongmal gomawo” Donghae mengecup puncak kepala Hyo In.

Tiba-tiba Hyo In meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, Donghae yang sadar dengan keadaan Hyo In langsung melepaskan pelukannya kemudian matanya terbelalak karena melihat darah keluar dari selangkangan Hyo In mengalir dikaki indahnya.

“ahkk oppa, neomu apaseo” Hyo In semakin melemas ia meremas dressnya sambil menggigit bibir bawahnya. Dengan tergesa Donghae langsung mengangkat tubuh Hyo In kemudian membawanya kerumah sakit.

Donghae POV

@Hospital

Jantungku memompa darah lebih cepat kali ini, degupannya juga semakin tak beraturan. Melihat Hyo In kesakitan seperti ini membuat hatiku terasa teriris, kalau saja rasa sakitnya bisa dialihkan biar aku saja yang merasakannya. Aku mengantarnya sampai depan ruang bersalin hingga seorang suster melarangku untuk menemaninya. Namun dicegah oleh Hyo In.

“aku ingin bersama suamiku suster” tangan Hyo In tak pernah lepas menggenggamku. Kemudian kami bergegas memasuki ruangan.

“ayo nyonya, sedikit lagi” ucap uisanim

“kau pasti bisa chagi-ya..berjuanglah” ucapku berusaha menguatkannya

“aahkkk…aku tidak kuat oppa, ini terlalu sakit” genggaman tangannya semakin erat kurasakan seiring keringatnya yang semakin membasahi seluruh tubuhnya.

Kuusap peluh yang membasahi wajahnya dan rambutnya, aku benar-benar tak tega melihatnya seperti ini.

“oppaaaa..ssaaakkiitt”

“aku tahu kau yeoja yang kuat chagi-ya…bertahanlah untuk anak kita” ia mengangguk kemudian menghela napas panjang kemudian berusaha mendorong bayi kami.

“aahhhkkkkkk……ooeeekk…ooeekk…” *tuhkan backsoundnya gak enak banget* tubuhnya melemas seiring suara tangisan anak kami.

Kulihat airmatanya mengalir dari ekor matanya, akupun tak mampu membendung semua rasa bahagiaku. Kupeluk tubuh lemasnya menyalurkan semua rasa bahagiaku hari ini. Ia terlihat semakin cantik meskipun denganwajah pucatnya.

“kau lihatkan, kau pasti bisa, gomawo chagi-ya” ia mengangguk kemudian membalas pelukanku.

“selamat tuan, anak anda namja yang tampan” suara uisanim membuat perhatian kami teralihkan. Kugendong jagoan kecilku kemudian duduk disamping Hyo In yang terlihat begitu bahagia.

“siapa namanya oppa?”

“emmm….bagaimana kalau Dongho. Ne, annyeong Lee Dongho ini appa” kukecup dahinya dan dia terlihat sedikit menggeliat. Aigoo..jadi ini bayi yang tidak mau bertemu dengan appa-nya. Kau tampan, batinku bangga.

“nama yang bagus, annyeong Lee Dongho..ini eomma. Pasti sekarang kau sangat senang karena sudah keluar dari tempat yang sempit itu” Dongho hanya menguap seolah ingin mengatakan sesuatu. Sementara aku hanya terkikik geli mendengar kata-kata Hyo In.

Author POV

Donghae sudah menghubungi semua keluarganya. Beberapa saat kemudian Joong Ki dan Ahra datang untuk menjenguk adik sekaligus melihat keponakan mereka yang baru lahir. Terdengar pintu kamar tempat Hyo In dirawat terbuka kemudian menampakkan sepasang yeoja dan namja yang tengah menggendong seorang yeoja kecil yang lucu.

“ah, hyung noona kenapa kalian baru datang” Donghae menghampiri Joong Ki dan Ahra yang baru saja sampai

“annyeong Ah Joong-ya! Apa kau tidak merindukan samcheonmu yang tampan ini” Donghae mengambil alih Ah Joong dari appa-nya. Joong Ki mendengus kesal sementara Ahra hanya menggeleng mendengar pernyataan Donghae kemudian menghampiri Hyo In yang tengah menggendong Donghwa ditempat tidurnya.

“mian Donghae-ah, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja”

“lagipula kau mengabari kami terlalu mendadak” canda Joong Ki kemudian menghampiri Hyo In.

“bagaimana keadaanmu?” Joong Ki duduk disamping Hyo In sambil mengacak rambutnya.

“ya! Kenapa oppa masih memperlakukanku seperti anak kecil, aku ini sudah jadi eomma oppa” belanya. Joong Ki hanya tersenyum tak percaya melihat gadis kecilnya selama ini kini telah menjadi seorang eomma.

“hahaha…oh ya! Siapa nama Donghae junior ini, hm?”

“Lee Dongho” sambung Donghae lalu menghampiri mereka bertiga.

“kyeopta….aigoo…kenapa kau bisa begitu tampan Dongho-ya” puji Ahra

“tentu saja,lihat Ah Joong-ya, tidakkah namdongsaengmu ini tampan seperti samcheon? Eomma-mu saja tidak bisa memungkirinya” sementara Ah Joong yang masik berusia 1 tahun pun hanya tersenyum mendengar kata-kata samcheonnya yang sama sekali belum ia mengerti.

“ya! Jangan mencampuri otak putriku yang masih bersih dengan mengatakan kalau kau itu tampan” protes Joong Ki

“tapi itu memang kenyataan hyung, kalau tidak mana mungkin adikmu bisa tergila-gila padaku” kemudian sebuah bantal dengan sukses menimpa perut Donghae.

“ya, jangan libatkan aku dalam pertengkaran kalian” sulut Hyo In.

“aish…lihat hyung, kenapa kau bisa punya adik yang menyebalkan sekali” ucapnya sambil meringis mengelus perutnya.

“sudahlah…kenapa setiap kali bertemu kalian selalu bertengkar” leraian Ahra membuat mereka bertiga diam.

“kapan keluargamu akan datang?” tanya Joong Ki

“hari ini juga appa dan eomma akan berangkat ke Korea. Kalau Hyukjae mungkin masih seminggu lagi dia bisa kesini” jawab Donghae kemudian memberikan Ah Joong pada Ahra yang ternyata sudah tertidur digendongan Donghae.

“besok Hyo In sudah boleh pulang, jadi kalau kalian mau melihat Dongho kalian bisa langsung kerumah”  jelas Donghae diikuti anggukan Joong Ki dan Ahra.

5 tahun kemudian

Hyo In POV

“eommaaa….sepatuku hiillaanngg”

“chagi-yaaa….kau sembunyikan dimana dasikuuu” aish…mereka pikir aku ini pencuri? apa mereka tidak tahu kalau aku sedang memasak untuk mereka, kenapa ikan-ikan itu berisik sekali.

“biar saya saja yang melanjutkan memasaknya, nyonya urusi saja kedua ikan nyonya itu” aku hanya tersenyum mendengar kalimat Kim ahjumma, beliau memang sudah seperti eomma-ku sendiri.

“ne” kulepaskan celemekku lalu aku masuk kekamar dan betapa kagetnya kau saat melihat dua ikan ini hanya berbalut handuk dari pangkal perut sampai lutut saja sedang asik saling menggelitiki.

“aigoo…kenapa kalian tidak cepat-cepat ganti baju” Kuangkat ikan kecil ini dari perut Donghae diikuti dengan Donghae yang masih dengan santainya bertelanjang dada duduk dipinggir ranjang. Aish, apa dia mau terlambat bekerja.

Tak kuhiraukan si ikan besar itu, aku beralih kelemari mengambil seragam sekolah Dongho kemudian memakaikannya, merapikan rambut dan wajahnya(?), dan terakhir membantunya mengikat tali sepatu.

“wae” aku menunduk menyetarakan tinggiku dengan Dongho masih memperhatikanku dari tadi

“kapan telahil kali eomma menyisil lambut? Lambut eomma sangat belantakan. Aku helan kenapa appa mau menikah dengan eomma” ucap Dongho dengan suaranya yang masih belum bisa menyebutkan huruf R dengan benar. Donghae sudah terkikik mendengar kata-kata Dongho. Sementara aku hanya bisa menghela napas dan mendengus kesal.

“keundae, eomma neomu yeppeo. Neomu neomu salanghamnida” ucapnya sambil mencium pipi kananku kemudian berlari keruang makan. Omona…Dongho-ya! Kenapa kau harus menuruni sifat ayahmu yang satu ini.

Aku beranjak dari dudukku kemudian beranjak keluar kamar namun ditahan oleh genggaman tangan Donghae. Aku menoleh kearahnya yang dengan raut bertanya sedangkan dia tiba-tiba tersenyum kemudian menunjukkan muka aegyo-nya. Aish…kau masih kalah imut dengan Sungmin Super Junior oppa.

“eommaaa…kau tidak mau menggantikan baju ikan yang ini. Aku kan juga ingin seperti Dongho” rengeknya seperti Dongho saat kugendong. kupukul kepalanya sedikit keras hingga membuatnya meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya.

“panggilan itu terdengar menjijikkan oppa, aku tidak suka”

“ah ayolah chagi-yaaa….aku ingin dimanja seperti Dongho” tangannya beralih dari lenganku menuju pinggangku.

“ya oppa, ini masih pagi. Ah, aku lupa menyiapkan susu pisang untuk Dongho” kulepaskan lingkaran tangannya kemudian berbalik menuju pintu, tapi lagi-lagi ia memelukku. Kali ini dari belakang kemudian meletakkan dagunya dinahu kiriku. Bisa kurasakan terpaan napasnya yang menerpa leherku dan membuatku sedikit bergidik.

“gomawo…kau sudah memberikan kebahagiaan untukku selama ini…saranghae chagi-ya” ucapnya sambil mengecup tengkukku kemudian membalikkan tubuhku yang sedari tadi masih membeku karena perlakuannya.

Ia menatapku dengan mata sendunya yang tidak pernah bisa kulupakan, mengelus rambutku. Menangkup wajahmu dan mencium kening, mata, hidung, pipi, dan terakhir melumat bibirku lebih lama aku hampir membalasnya sebelum…..

“eommaaaaa…..mana susu pisangkuuuuu” langsung kulepaskan tautan bibir kami, kulihat wajah Donghae berubah kesal.

“aish, kenapa lagi anak itu. Apa dia tidak tahu kalau appa-nya masih ingin bersenang-senang. Menyebalkan sekali” Donghae mengacak rambutnya kesal.

“dia menyebalkan juga karena oppa yang menurunkan sifat seperti itu” aku melengos meninggalkannya menuju ruang makan.

Author POV

Beberapa menit kemudian Donghae turun keruang makan dengan pakaiannya kerjanya yang rapi menghampiri Dongho dan Hyo In yang sudah berada dimeja makan. Setelah selesai sarapan Dongho berangkat ke sekolah diantar oleh appa-nya. Dongho sudah berdiri didepan pintu rumah dengan Hyo In yang terduduk didepannya.

“Donghae-ya, belajar yang rajin ya. Jangan nakal, arra!”

“ne, allaseo eomma” Dongho mengangguk dan berlari meuju mobil appa-nya, namun tiba-tiba ia berbalik lagi.

“aku lupa sesuatu eomma” kening Hyo In berkerut mendengar ucapan putranya, kemudian Dongho langsung merengkuh wajah Hyo In dan mencim pipi kanan kiri eomma-nya itu dan kembali masuk kedalam mobil.

Donghae sendiri sampai terbengong melihat tingkah putra semata wayangnya. Sementara Hyo In hanya terbengong masih belum sadar sepenuhnya dari lamunannya. Sesaat kemudian Hyo In beranjak dan berbalik ke pintu menghadap Donghae.

“aku berangkat” ucap Donghae dengan senyumnya kemudian mencium kening Hyo In dan dibalas dengan senyum dan anggukan kemudian Donghae berlalu menuju mobil. Sama seperti Dongho tadi, tiba-tiba Donghae berbalik dan menghampiri Hyo In (lagi).

“eo…wae? Apa ada yang kau lupakan? apa kau jug akan mencium pipiku seperti Dongho tadi” sergah Hyo In cepat

donghae tidak menjawab namun langsung mendekap tubuh Hyo In dan memberikan ciuman kilat dibibir Hyo In.

“ani, morning kiss-ku yang kurang. Tadikan belum selesai” sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum simpul dan kembali key mobil dengan senyum penuh kemenangan. Kembali Hyo In terdiam menerima perlakuan Donghae. Apa-apaan mereka ini, batinnya. Sesat kemudian Hyo In tersadar dan menatap kearah mobil Donghae yang siap pergi.

“annyeong eomma” teriak Donghae dan Dongho  bersamaan dari dalam mobil sambil melambaikan tangan.

“ne, hati-hati” balas Hyo in sambil melambaikan tangannya juga. Ia tersenyum lega, dalam hatinya sebenarnya ia ingin berteriak kepada seluruh penghuni dunia bahwa kini ia tengah bahagia.

Kebahagiaan bukan hanya sekedar kata

bukan juga karna melimpahnya harta

namun kebahagiaan adalah hal yang terasa

setelah pahit itu reda

Song Hyo In_

The End

gimana? Gimana end-nya? Udah gak nggantung kan! *semoga* hahahaha

selesai baca RCL please. Terima kasin readerdeul yang udah baca ff gaje ini. Semoga gak pada muntah abis baca ni ff. kekeke

Annyeooonngg….^^

*bow

13 thoughts on “Haengbok [2nd Sequel of Stay]

  1. keuji kebahagian itu datang setelah pahit hilang (?)

    setelah baca part yang ini
    aku ikhlas mereka bersatu

    boleh nanyak ?

    apa defenisi bahagia menurut kamu ?

  2. wkwkwk…anak maa bapak sma saja,hihi…hyoin hrs sabar nih,disini menceritakan perjalanan kehidupan keluarga kecil donghae yg harmonis ahk…buat orang yg iri.>_<·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s