ANNOUNCEMENT

ATTENTION

image

[!!!] Untuk beberapa minggu ke
depan saya cuma bisa on dan
update ff drabble/ficlet/short story Kyuhyun-Hyo In karena saya lagi gak ada PC otomatis pem- publish-an RESET juga tertunda.

Sekian pemberitahuan dari
saya. Dan semoga ini menjawab
pertanyaan kalian di personal account maupun comment di RomantiCaffe.

Ini semua di luar kendali saya.
Kalo disuruh jujur saya juga
udah gatel pengen nglanjutin
RESET. Untuk saat ini ff itu masih
berupa coretan di kertas dan
belum sempat mimin ketik.

Terima kasih buat Readers aye tercinta yang masih setia menunggu RESET. Untuk sementara saya hanya akan update FF dengan lenght Drabble/Ficlet/Short Story Kyuhyun-Hyo In.

Regards
Valuable94

[Vignette] Black Miniskirt

“Black Miniskirt”
Lee Donghae/Noh Ah Young
By: Valuable94

Ah Young POV

Mata tak akan pernah berbohong.
Tapi percayakah kau bahwa aku
berharap mata sendu nan dingin
itu tengah berbohong padaku.
Ini gila. Yah, aku tahu aku memang gila. Terpesona pada tubuh 178 cm dengan balutan otot yang merentangkan kemeja hitam dengan dasi merah itu. Begitu sempurna dengan rahang tegas dan ukiran wajah setampan
Poseidon.

Ya. Dia Poseidon yang
menenggelamkan aku hanya
dengan sekali menatap.

1, 2, 3. Bingo!
Bahkan kerlip bohlam lampu di
club ini tak akan bisa
menyembunyikan wajah jernih itu.

“Hey! Ayo turun!”
Aku terkesiap saat teriakan yang
teredam kerasnya musik klub milik temanku berhasil menghapus lamunanku. Aku menggeleng menolak, hanya ingin menikmati wajah pria itu yang lebih sibuk dengan Wine-nya ketimbang melirik banyak wanita seksi yang berlalu lalang di sekitarnya.

Mata itu kini mulai beredar ke
penjuru lain, dan aku terpaksa
menunduk seraya memainkan gelas vodka di depanku. Aku tahu tidak seharusnya bertingkah konyol seperti itu. Pria itu bahkan tidak sadar jika aku sudah
memerhatikannya.

Detak jantungku memelan dan
panas di kedua pipiku mulai
menurun saat mata itu tak lagi
melihat ke arahku. Kucoba untuk melirik pria itu lagi dan kembali terpesona saat ia mengerucutkan bibirnya lucu seraya memutar kursi beberapa derajat. Dan membuat pipiku memanas lagi saat mata sendu itu bertemu denganku lagi.

Aku berdeham salah tingkah seraya menggaruk tengkuk. Entah pria itu masih melihatku atau tidak. Aku memilih turun menyusul temanku di dance floor. Ia nampak menggerutu saat aku berpamitan padanya untuk pulang.

“Ini bahkan belum pagi, Young-ie,” gerutunya.

Aku tidak mungkin mengatakan jika sebenarnya alasanku ke sini
hanyalah untuk menghormatinya
sebagai teman sejak SMA untuk
pembukaan club barunya malam
ini. Terlebih lagi karena aku tak
tahan melihat salah satu tamunya
yang begitu memikatku dalam
waktu hanya 3 detik.

“Aku harus pulang atau tidak
mendapatkan taksi malam ini. Aku harus masuk kantor besok pagi.” aku berteriak karena suara musik yang begitu keras.

“Baiklah, kalau kau memaksa.
Terima kasih sudah datang
kemari.” Aku mengangguk seraya tersenyum.

Setelah berpamitan dengan susah
payah aku mulai menerjang
sempitnya lantai dansa yang penuh dengan banyak pria dan wanita yang mulai menggila. Mendengus malas beberapa kali saat selempang tasku jatuh lagi dari bahu kananku.

“Hai, nona!”

Aku terkesiap. Berbalik dengan
cepat, mengantarkan tatapan tajam pada seorang pria berambut pirang yang baru saja meremas bokongku yang masih berlapis miniskirt hitam 15cm di atas lutut. Semakin muak saat melihatnya tengah menggigit bibir bawah dan menatapku penuh minat. Sialan.

“Mau berdansa denganku?”
Menatapnya malas, kemudian aku
berbalik begitu saja. Tak ingin
menanggapi pria gila itu dan
segera pulang. Namun pukulannya pada bokongku membuat singa yang kusimpan keluar untuk menerkam dan mencabik-cabiknya.

“AISH, NAPPEUN SAEKKI-YA!!!”
umpatku kemudian memukul
kepalanya keras dengan tas
beberapa kali. Dan saat pria itu
lengah, kutendang bagian tengah
selangkangkangannya. Sedikit
menurunkan miniskirt-ku yang
terangkat beberapa centi kemudian meninggalkan keributan di belakangku dengan napas tersengal karena kesal.

Aku berjalan cepat keluar dari club. Menggerutu kesal, mengumpati pria gila itu tanpa henti.

“AW!” pekikku.

“SIAL!” gerutuku saat melihat hak
10cm sepatuku masuk ke dalam
penutup beton yang sedikit
berlubang. Kugerakkan kakiku
untuk melepasnya. Beberapa kali
gagal hingga akhirnya kuhentakkan kakiku keras dan membuat haknya lepas.

“AISH, JINJJA!” geramku.

Aku bermaksud membungkuk untuk mengambil high heels-ku namun terhenti karena teriakan seseorang.

Mataku menatapnya takjub.
Poseidon itu berlari ke arahku
dengan mantel cokelat di lengan
kirinya. Aku mengernyit heran
karena yang ia bawa adalah
mantelku.

Jantungku memacu kencang lagi
dan kurasa kini pipiku juga
memerah karena ia mengikatkan
lengan mantel di pinggangku.
“Kau hampir saja membiarkan
orang lain melihat celana
dalammu.”

Aku terkesiap saat mata sendu itu melirik bagian bawah tubuhku. “Miniskirt-mu terlalu pendek nona…”

“Ah Young. Noh Ah Young,”
jawabku cepat dan mendapat
balasan anggukan dan senyum
manisnya. “Baiklah Ah Young-ssi,
apa kau akan pulang dengan
pakaian seperti itu, hum?”

Kulepas cepat mantel di
pinggangku kemudian memakainya dengan benar lalu mengambil sepatuku yang rusak.

“Aku naik taksi. Terima kasih sudah membawakan mantelku tuan…”

“Lee Donghae.” aku mengangguk
dan tersenyum sepelan yang aku
bisa. “Iya. Donghae-ssi,” ujarku
senormal mungkin, m enahan jerit
senang saat akhirnya aku tahu
nama Poseidon itu.

“Kupikir akan sangat berbahaya
jika kau pulang naik taksi.”

“That’s okay.” sejujurnya, aku
sangat berharap pria ini akan
membiarkanku masuk mobilnya dan mengantarku pulang.

“Aku bawa mobil. Kalau kau mau
pulang bersamaku.”

Dalam hati aku begitu bahagia saat mendengarnya. Kupikir pria ini mulai tertarik padaku. Tapi aku
tidak mungkin langsung
menerimanya.

“Tidak perlu.”

“Kau yakin. Pria yang kau pukuli
tadi sepertinya tak mau
melepaskanmu.”

Kuikuti arah telunjuk Donghae dan terkesiap takut saat melihat pria gila berambut pirang itu keluar dari club. Menatapku garang seraya meringis memegangi selangkangannya.

Kugandeng lengan Donghae cepat
dan menariknya menuju parkiran.
“Bawa aku pulang sekarang.”

***

Selama perjalanan, aku hanya
terdiam seraya menikmati alunan
musik balad dari mp3 playernya.
Sesekali bergerak gusar membenahi miniskirt-ku, sedikit tak nyaman.

“Kenapa?” tanya Donghae tiba-tiba.

“Amudeo eobseo.”

Donghae hanya tersenyum, masih
sibuk dengan setir di depannya.

“Kalau tidak nyaman kenapa
dipakai?”

Aku tertawa janggal kemudian
membenarkan miniskirt-ku lagi. Ya, aku memang tak begitu suka
dengan pakaian ini.

“Kupikir ini pakaian yang cocok
untuk pergi ke club.”

“Dan berpikir akan ada pria yang
terpikat karena itu?” aku
mendengus kesal. “Apa
maksudmu?”

Donghae tertawa pelan. “Bukan
apa-apa. Hanya saja kebanyakan
pria lebih suka melihat bagaimana
kau melepas miniskirt itu untuk
mereka.”

“Termasuk kau?”

“Kurasa begitu. Dan pria pirang
yang begitu menyukai bokongmu
itu. Kau tahu? Aku sangat suka
bagaimana kau menendang
selangkangannya tadi.”

Donghae tertawa keras, begitu pun aku.”Kau mau merasakan
tendanganku juga?” kelakarku.

“Tidak, terima kasih, Ah Young-ssi.”

Donghae terdiam seraya menatapku lekat sesaat sebelum akhirnya kembali memerhatikan jalanan di depannya. Aku mengernyit penasaran. “Kenapa?” tanyaku, kemudian ia tersenyum
pelan. “Ani. Aku hanya berpikir
perlukanh untukku memegang
bokongmu sebelum…”

“YA!” Donghae tertawa keras saat
aku mendaratkan pukulan dengan
tasku pada bahu kirinya.

“Dasar laki-laki.” Donghae tertawa
lagi mendengar gerutuanku.

Detik berikutnya kami terdiam
kembali hingga aku menginstruksinya untuk berbelok di gang rumahku. Beberapa meter
kemudian mobil Donghae berhenti tepat di depan rumahku.

“Terima kasih untuk tumpangannya, Donghae-ssi.”

“Sama-sama,” gerakan tanganku
terhenti di pintu saat Donghae
menahanku. “Boleh aku meminjam ponselmu. Aku lupa menaruh ponselku.”

Aku mengangguk kemudian
memberikan ponselku padanya.
Setelah ponsel yang berada di
dalam sakunya bergetar, aku segera turun dan berpamitan padanya kemudian masuk rumah.

Buncahan rasa senang membuat
pipiku kembali memanas dengan
jantung berdetak cepat. Aku duduk di pinggiran ranjang. Terbayang kejadian yang baru saja kualami bersama Poseidon itu.

Aku terkesiap saat ponselku
bergetar. Ada satu pesan masuk
dari nomor baru.

‘Terima kasih untuk nomor
ponselnya.’ (pria yang baru saja
mengantarmu pulang)

Aku berjingkat girang kemudian
membuka jendela kamar. Menatap mobil Audi hitam itu dari balkon dengan Donghae yang mendongak menatapku dengan senyum manis.

Pria itu. Kini menenggelamkanku
semakin dalam pada lautan sendu
di matanya.

Ponselku berdering lagi. Ada
panggilan masuk dari Donghae.

“Jalja.” ucapnya seraya menatapku
dari bawah.

“Nde.”

Donghae menutup telponnya
kemudian melambai padaku dan
melajukan mobilnya menjauh dari
rumahku.

END

[Short Story] Vitamin K

Vitamin K
Cho Kyuhyun/Song Hyo In
By: Valuable94

Image

Normal POV

8 pm

“Oppa, apa yang kau lakukan?” Kyuhyun hanya bergumam seraya mengusap pelan dan menciumi perut datar Hyo In. Tak memedulikan wanita yang tengah menahan geli karena perlakuannya.

“Oppa, bangun! Kepalamu berat,” keluh Hyo In seraya berusaha mengangkat kepala Kyuhyun dari pahanya.

“Shireoyo,” dengus Kyuhyun kemudian menempelkan telinganya di perut Hyo In.

“Kau tidak akan mendengarkan apapun di sana.”

“Sssttt. Kau menganggu konsentrasiku.”

“Oppa, usianya masih 1 bulan . Kau tidak akan menemukan suara apapun.”

“Kau semakin cerewet semenjak hamil,” gerutu Kyuhyun. Ia melirik sinis Hyo In yang sudah bersiap memukulnya.

“Mau memukulku? Kau mau Sarang melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat, huh?”

Continue reading

[Drabble] Moonlight

“Moonlight”
Park Chanyeol (EXO)/Choi Hyun Rin (OC)
Romance, Fantasy
By: Valuable94
Disclaimer: DO NOT COPY PASTE AND RENAME THE CASTS. CHANYEOL BELONG TO HIMSELF.

1532088_505285612931421_6353386902234752715_a

 

Normal POV

 

“Kau tau, sayang. Semua hal punya batas. Bumi, langit, bulan, bahkan alam semesta.”

“Lalu?” Chanyeol menunduk dalam mendengar suara lirih Hyun Rin. Tertahan dan tercekat begitu saja.

Andai tangan itu bisa merengkuhnya.
Andai kehangatan itu bisa ia berikan pada gadis itu.

“Berhenti melakukan hal yang sia-sia. Kau harus menerima apapun akhir cerita yang Tuhan berikan.” Hyun Rin menggeleng pelan dengan pandangan yang tak lepas dari hangat cahaya bulan yang menemani mereka. “Aku tidak mau,” ucapnya mantap.

Continue reading